Tampilkan postingan dengan label Keilmuan Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keilmuan Islam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Februari 2016

Interaksi Laki-laki dan Perempuan

Mengingat kisah Nabi Musa a.s. dan dua perempuan putri Nabi Syuaib a.s. membuat saya merasa malu terhadap diri saya sendiri. Salah satu kisah yang Allah firmankan dalam surat Al Qasash, saat Musa melarikan diri dari Mesir setelah tanpa sengaja membunuh seseorang dengan meninjunya, hingga akhirnya Musa tiba di Sungai Madyan. Nabi Musa menuju ke arah sungai Madyan dan dia menemukan sekumpulan orang sedang memberi minum domba-domba mereka disana.

(1) Disamping para penggembala, di puncak bukit Musa melihat dua wanita yang sedang menarik domba-domba mereka karena domba-domba itu bergerak mendekati sungai. Musa melihat dari jauh dengan keheranan karena kedua wanita itu tampak kesulitan dengan domba-domba mereka, sedangkan orang lainnya dengan nyaman memberi minum domba-domba mereka di sungai. Musa menghampiri kedua perempuan itu dan berkata “Ada yang bisa kubantu? Apa yang terjadi?”
Musa berbicara dengan singkat dan tidak berlebihan. Disini kita mendapati pelajaran berharga tentang seorang pria yang memiliki hayaa (kesantunan), pria seharusnya menjaga lisan dan pandangannya, sehingga terjaga hatinya. Ketika ada orang lain sedang dalam masalah, tidak ada salahnya kita menolong dan berkata, “Ada yang bisa kubantu?” Akan tetapi kita harus memperhatikan diri dengan tidak berbicara melampaui batas.

(2) Dan kedua perempuan itu menjawab, “Kami tidak bisa memberi makan domba kami sampai domba-domba milik orang lain selesai” Ada banyak pria di sungai itu yang tampak tidak cukup baik hati sehingga mereka hanya memberi makan ternak mereka dan tidak memberi tempat untuk kedua perempuan tersebut. Kedua perempuan ini merasa keberatan untuk bercampur baur atau berdesak-desakan dengan para penggembala yang umumnya adalah laki-laki. sehingga keduanya harus bersabar menunggu sampai para penggembala lain selesai meskipun harus menunggu sampai sore untuk bisa memberi minum domba-domba mereka. Salah satu hal yang bisa kita tarik dari hal ini, yaitu kesabaran. Kesabaran untuk menahan diri. Kesabaran itulah yang membedakan seseorang dengan yang lainnya di mata Allah. Kesabaran adalah kunci terjaganya kemuliaan perempuan. Kesabaran itulah yang menjadi pintu jihadnya perempuan.

Kisah ini juga dapat menjadi contoh yang sangat bagus dalam Al Qur’an tentang wanita dan dunia kerja. Kedua putri Nabi Syuaib menjelaskan, “Ayah kami sudah tua.” Dan karena sang ayah sudah tua maka dipahami bahwa ia tidak dapat lagi bekerja. Sang ayah tidak bisa mengurusi ternak, mengurusi rumah dan hal-hal lainnya, dan dia hanya mempunyai dua putri sehingga mereka berdualah yang bekerja. Hal ini terjadi pada banyak orang karena situasi ekonomi maupun situasi keluarga, baik karena perceraian, meninggalnya suami, ataupun karena hanya ada seorang wanita di rumah yang mengurus keluarga dan orang tua yang sudah renta, sehingga mengharuskan mereka para wanita untuk bekerja. Ini bukan sesuatu yang dilarang dalam Islam. Al Qur’an sendiri membicarakannya, hanya saja ada etikanya.

Prinsip-prinsip hayaa (kesantunan) itulah yang dipegang oleh Nabi Musa dan kedua putri Nabi Syu’aib. Banyak diantara kita yang mungkin berada di tempat kerja, dan mendapati situasi yang akan melanggar standar prinsip kita. standar hayaa, standar kesantunan dan standar rasa malu, akan tetapi selama kita masih berpegang teguh pada prinsip tersebut, kita masih bisa menyelesaikannya.

Allah berfirman bahwa Musa hanya memberi mereka minum dan membawanya kembali, kemudian dia duduk. Sebuah catatan singkat tentang Musa a.s. saat berinteraksi dengan kedua wanita ini. Sebuah catatan yang benar-benar menunjukkan bahwa akan ada situasi yang sama yang akan selalu terjadi di masa mendatang, mungkin itu terjadi pada diri kita, saudari kita, putri kita, ibu kita yang mungkin harus bekerja dan menjadi catatan tentang bagaimana seharusnya bersikap.

(3) Ayat selanjutnya, “Salah satu dari mereka kembali lagi berjalan dengan malu-malu”
Saat salah seorang dari kedua perempuan tersebut hendak menemui Nabi Musa untuk menyampaikan pesan dari ayahandanya, ia berjalan dengan malu-malu. Allah memberitahu rasa malu ketika gadis itu berjalan menuju Musa a.s. “Ayahku memanggilmu. Dia ingin membalas jasamu atas kebaikan yang kau berikan pada kami.”

Ayat ini memberitahukan tentang sebuah teladan kepada kita, ada sisi dimana seorang perempuan harus memiliki ketegasan dan rasa percaya diri, serta dapat dipercaya untuk berhubungan dengan dunia luar, di sisi lain, kualitas dari rasa malu mereka yang disebutkan ketika mereka berinteraksi dengan pria non-mahram. Itulah cara berjalan dan berinteraksi seorang gadis muda yang suci, terhormat, menjaga diri dan bersih tatkala bertemu dengan laki-laki. Ia tidak bertingkah macam-macam, tidak pula bersolek ataupun berjalan berlenggak-lenggok.

(4) Selanjutnya perempuan tersebut menghampiri nabi Musa untuk menyampaikan undangan dengan kata-kata yang singkat, pendek, dan lugas. "Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberi balasan terhadap kebaikanmu memberi minum ternak kami"
Ia sampaikan itu dengan rasa malu, jelas, gamblang, dan detail, tanpa gagap, bingung dan ruwet. Itulah tanda kecerdasan alami yang bersih, sehat dan lurus. Seorang gadis baik-baik dengan tututan fitrahnya tentu akan merasa malu jika bertemu dan berbicara dengan laki-laki. Dengan kepercayaan diri yang penuh akan kesucian dan kelurusannya, putri Nabi Syuaib mampu berbicara dengan jelas, sesuai kebutuhan dan tidak lebih.

(5) Putri Nabi Syuaib meminta kepada ayahnya untuk mengambil nabi Musa agar bekerja kepadanya.  "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya."
Kedua putri Nabi Syuaib ini merasa keberatan dan tersiksa untuk menggembala kambing, berdesak-desakan dengan kaum pria dan berinteraksi dengan mereka laiknya orang yang melakukan pekerjaan laki-laki, sehingga putri Nabi Syuaib meminta kepada ayahnya untuk mempekerjakan seorang laki-laki.
Selain itu, pada ayat ini juga tersirat sebuah “kode” yang disampaikan dengan sangat elegan dan terhormat, dengan bahasa yang halus dan dapat dipahami. Perempuan tersebut dapat menilai Nabi Musa sebagai orang yang kuat dan dapat dipercaya, dapat dipercaya juga dapat dimaksudkan bahwa Nabi Musa dinilai mampu menjaga pandangan dan lisannya. Penilaian yang muncul dari firasat seorang yang berilmu. Ilmu sangatlah penting untuk mengasah kepekaan, yang dengannya akan membimbing orang-orang yang beriman. Maka di ayat selanjutnya Nabi Syu’aib berkata kepada Musa bahwa ia bermaksud menikahkan Musa dengan salah seorang dari kedua putrinya itu.


Inilah suri tauladhan yang agung dari Al Quran, surat Al Qashash [28] : 23-26, yang mengajarkan kita bagaimana bersikap dan apa arti keberadaan perempuan di tengah-tengah kaum laki-laki. Kisah yang sangat indah untuk kita dapat menggarisbawahi beberapa prinsip moral dan etika yang sangat berharga tentang bagaimana interaksi antara pria dan wanita. Semoga Allah menuntun  untuk selalu menjaga prinsip kita dimana pun kita berada.

Jumat, 20 Maret 2015

Masa Kecil (0-6 tahun) Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam

Bismillah..

SAAT KELAHIRAN:
- Keluar cahaya dari kemaluan aminah
- Runtuhnya 10 balkon istana kisra
- Padamnya api sesembahan orang majusi
- Runtuhnya gereja di buhairah

Saat bersama Halimah:
- Air susuan halimah menjadi penuh
- Keledai tunggangannya menjadi kuat
- Air susu onta tua halimah menjadi penuh
- Air susu domba2 halimah menjadi penuh
- Pembedahan dada oleh malaikat jibril
- Dll.


Selengkapnya lihat kronologi di gambar.

Sirah Nabawiyah. Masa Kecil Nabi Muhammad Rasulullah Shalallahu ;alaihi wassalam.

55 Hari Sebelum Kelahiran Rasulullah

Bismillah..
Perang Gajah di Tahun Gajah, Kronologi Abrahah hendak menghancurkan Ka'bah di Makkah.
55 Hari Sebelum Kelahiran Rasulullah

Jembatan Keledainya Kharisma Arby.


Shirah Nabawiyah. Sejarah Islam. Sirah Nabawiyah. Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wassalam 




Awal Mula Kemusyrikan Di Makkah.

Bismillah.. 
Awal Mula Kemusyrikan Di Makkah.

Ketika dulu pernah mendengarkan ini, dari ustadz Bachtiar Nashir, dimana kesyirikan  bermula di masa kakek & ayahnya Nuh a.s. saat mereka mulai berlebihan menyikapi kalangan orang shaleh di antara mereka.

Konon ada orang baik dan dermawan sehingga orang di sekitar merasakan banyak sekali kebaikan orang shalih ini.

Turun temurun diceritakan kebaikannya, kemudian lukisan tubuhnya menyebar dimana-mana.

Awalnya sekedar ingin mengingat jasa-jasa kebaikannya. Orang mengunjungi kuburnya sekedar untuk mengingat jasa-jasanya.

Lalu setan membisikkan “kenapa tidak kau buat patung sehingga nampak lebih indah” Maka dibuatlah patung orang shalih ini dimana-mana, hingga bergeser, menyetarakan kebaikan orang shalih ini setara dengan Tuhan.

Improvisasi terus berlanjut dengan memberi nama. Orang baik ini diberi nama Waddan, Suwa’an, Yaghutha, Ya'auqa, dan Nasran. Kemudian didefinisikan sendiri-sendiri. Yang satu dewa pemberi rizki, dewa pemberi hujan, dll. Begitulah kesyirikan terjadi di kalangan Nuh a.s.

Lalu dari kalangan orang arab, Amr bin Luhay yang dikenal sebagai orang yang dermawan & berilmu membawa patung dari negeri Syam yang dianggapnya sebagai negeri para Nabi.

Lalu oleh Amr bin Luhay, diajaklah penduduk Makkah untuk menyembah patung tersebut. Begitu pula penduduk Hijaz dan berbagai kabilah yang datang ke Makkah saat musim haji. Hingga berhala2 ini tersebar dimana-mana dan ada di setiap rumah pada saat itu.

Semoga Jembatan Keledai -nya Kharisma Arby ini dapat membantu memudahkan kita mempelajari sejarah Islam

#sejarah   #shirahnabawiyah   #kemusyrikan  #kesyirikan   #nuh   #islam   #islamic   #history   #ilmu  #aqidah   #tauhid  


 

Kelahiran Nabi Ismail dan Terpancarnya Mata Air Zam-zam

Bismillah..
Bismillah. Terpancarnya Mata Air Zam-zam. Jembatan Keledai dalam mempelajari Sirah Nabawiyah.
Sedari kecil sering diceritakan kisah tentang Nabi Isma'il dan terpancarnya mata air zam-zam, tapi baru tahu dan baru ngeh ternyata kisah detailnya seperti ini.

Semoga jembatan keledai yang saya buat ini memudahkan dalam belajar dan mengingat kisah-kisah dalam kitab Sirah Nabawiyah.

#SirahNabawiyah #SejarahIslam #Ismail #Zam-zam # Ibrahim #Makkah

Jazirah Arab

Bismillah..
Sebelum mempelajari perjalanan Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam, ada baiknya untuk mengetahui letak geografis jazirah arab. 
*Visualisasi Sirah Nabawiyah ini jembatan keledai-nya Kharisma Arby*


Selasa, 14 Oktober 2014

Manifestasi Malu dari Para Muslimah yang Menjaga Pandangannya

Bismillah..
“Katakanlah kepada wanita beriman,
‘Hendaklah mereka menahan pandangannya...”
-QS. An-Nuur[24]:31-

Kita tentu bisa memahami mengapa Allah SWT memerintahkan kaum lelaki agar menahan pandangan dalam QS. An-Nur[24]: 30, “Katakanlah kepada laki-laki beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat’”
Setiap orang pasti tahu apa yang bergejolak di dalam diri laki-laki ketika memandang perempuan.

Akan tetapi, apa makna menahan pandangan bagi perempuan? Apa sebenarnya hakekat perintah Allah kepada perempuan mukminat, “Katakanlah kepada perempuan beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya’” ?

Sama sebagaimana halnya perintah menahan pandangan bagi laki-laki, perintah menahan pandangan bagi perempuan berarti tidak berlama-lama memandang laki-laki dan segera mengalihkan pandangan dari mereka. Namun, khusus bagi kaum perempuan, menahan pandangan juga berarti tidak memelototi aurat perempuan lain. Juga tidak menjelalatkan mata kesana kemari dengan pandangan menggoda dan penuh sensual yang bisa membangkitkan gairah seksual di dada laki-laki.

Setiap perempuan terhormat tentu tidak akan membiarkan matanya menjelajah kemana-mana, menjebak jiwa-jiwa yang lemah, juga tidak akan membiarkan bahasa matanya disalah-artikan oleh orang yang terdapat penyakit di dalam hatinya.

Oleh karena itu Allah memerintahkan dengan lugas dan eksplisit, “Hendaklah mereka menahan pandangannya”


Dan puncak rasa malu justru terdapat pada mata-mata tertahan, yang begitu nyaris melihat lawan bicara, mata itu langsung kembali menahan pandangan penuh khusyuk dan malu.

Referensi : Manajemen Diri Muslimah (Dr.Akram Ridha)

Kharisma Nugrahandani Restuti

Senin, 13 Oktober 2014

Islam Tegak Dan Kuat Dengan Orang-Orang Bertekad Baja

Bismillah..
Saudara-saudaraku, para aktivis Islam. Ketahuilah, Islam kuat dan tegak dengan orang-orang bertekad baja, bukan dengan orang-orang murahan, orang-orang yang terbiasa hidup mewah dan foya-foya. Sungguh, Islam tidak mungkin kuat dengan orang-orang seperti itu. Islam kuat dan kokoh dengan orang-orang “besar” dan amanah besar yang tidak mampu dipikul langit dan bumi hanya bisa diemban dengan orang-orang besar.

Bagaimana Islam bisa tegak tanpa tekad seperti tekad Anas bin An-Nadr r.a.? Ia berkata, “Jika Allah mengizinkanku memerangi orang-orang musyrik, Dia akan melihat apa yang aku kerjakan.” Betul, Anas bin An-Nadhr punya kesempatan hadir di perang Uhud. Ia bertempur habis-habisan, hingga ditemukan 80 lebih luka saat ia meninggal. Tubuhnya dirobek-robek dan hanya bisa dikenali saudara perempuannya dengan melihat jari-jarinya. [1]

Bagaimana Islam dapat tegak dan berjaya kembali seperti dulu kala tanpa tekad seperti tekad Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. pada hari penumpasan orang-orang murtad? Kendati  berusia lanjut dan mudah menangis, ia berkata dengan tekad kuat, “Demi Allah, aku pasti memerangi orang-orang yang memisahkan shalat dengan zakat, kaena zakat itu hak harta. Demi Allah, andai mereka menolak membayar zakat unta dan kambing yang dulu mereka bayarkan kepada Rasulullah s.a.w., aku pasti memerangi mereka, karena mereka menolak membayar zakat tersebut.” [2]

Bagaimana Islam bisa kuat dan berjaya  tanpa tekad seperti tekad Mush’ab bin Umair r.a.? Tekad kuatnya membuat ia membuang masa remaja dan kehidupan serba “wah”, lalu beralih menjalani kehidupan keras, miskin dan penuh derita. Tekad kuatnya menjadi unsur paling penting keislaman sebagian besar penduduk Madinah.
Ketika ia memegang panji perang saat bertempur, tangan kanannya terpotong. Lalu ia memegang panji perang itu dengan tangan kirinya. Tangan kirinya juga terpotong tidak lama setelah itu, lalu ia memegang panji perang dengan kedua lengannya. Dalam kondisi seperti itu Mush’ab bin Umair diserang oleh Ibnu Qumi’ah dengan pedang hingga gugur sebagai syahid. Mush’ab bin Umair yang tadinya hidup mewah, hanya punya 1 baju untuk kafannya ketika ia meninggal dunia.

Bagaimana Islam dapat tegak dan berjaya seperti sedia kala tanpa tekad seperti tekad Shalahuddin Al-Ayyubi! Tekad besar membuatnya meninggalkan kehidupan mewah ala istana dan glamour serta lebih senang hidup di kemah, yang diombang-ambing kan angin di padang pasir bersama mujahidin.

Bagaimana Islam bisa kuat dan kembali berjaya seperti dulu kala tanpa tekad seperti tekad Umar  bin Abdul Aziz. Dengan tekad kuatnya, Allah ta’ala memperbaiki umat hanya dalam tempo waktu 2,5 tahun. Hingga dikatakan,”Pada masanya, serigala hidup rukun dengan kambing.” Hal ini bukan aneh dan mustahil, kecuali bagi orang-orang yang minim ilmu tentang Allah dan sunnatullah terhadap wali-walinya.

Karena begitu pentingnya tekad kuat dalam agama, Rasulullah s.a.w. berdoa, “Ya Allah, aku minta ketegaran dalam semua urusan dan tekad kuat berada di atas petunjuk.”
Ini untuk mendidik dan mentarbiyah kita—kaum Muslimin secara umum dan aktivis Islamsecara khusus.
Saya kagum dengan tekad kuat Waraqah bin Naufal. Ia berusia lanjut, tubuhnya lemah, tulangnya tidak kuat dan rambutnya beruban. Kendati demikian ia berkata kepada Rasulullah s.a.w. “Jika aku berada pada hari itu (hari engkau ditindas), aku pasti menolongmu mati-matian.” Lalu ia mendekatkan kepala Rasulullah dan menciumnya. Ia tua menurut usianya, tapi muda tekad dan semangatnya.

Tekad tinggi itu mendidih di hati para pemiliknya laksana air mendidih di periuk dan memotivasinya mengerjakan kerja-kerja besar setiap pagi dan petang, hingga ia berkata seperti yang dikatakan Imam Syafi’I, “Istirahatnya orang laki-laki (aktivis) itu satu bentuk kelalaian”.
Sebuah tekad yang kuat,
dapat mengubah sesuatu
yang mustahil menjadi rasional.
Dan teruslah maju ke depan,
 kendati banyak kendala dan rintangan.

[1] Diriwayatkan Al Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasai  dan Ahmad.
[2] Diriwayatkan Al-Bukhari dan Ahmad
- Dari buku Tausiyah untuk Aktivis Islam (Dr. Najih Ibrahim)

--

Kharisma Nugrahandani Restuti

Selasa, 30 September 2014

Keutamaan Puasa Arafah

Puasa Arafah sangat dianjurkan bagi mereka yang tidak pergi haji, sebagaimana riwayat dari Rasulullah saw. bahwa dia berkata tentang puasa Arafah:

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهَا وَالسَّنَةَ الَّتِيْ بَعْدَهَا 
“Berpuasa pada hari Arafah aku mengharap Allah menghapus dosa-dosa pada tahun lalu dan
dosa-dosa pada tahun yang akan datang." 
[H.R. Muslim (116)] 

Banyak orang yang melalaikan hari yang besar ini, padahal para ulama berpendapat bahwa dia lebih utama dari hari-hari dalam setahun secara mutlak, bahkan termasuk pada hari Arafah.  Ibnu Qoyyim –rahimahullah- berkata: “ Sebaik-baik hari disisi Allah adalah hari Nahr (hari raya qurban), dia adalah hari haji Akbar “, sebagaimana terdapat dalam sunan Abu Daud, Rasulullah saw.  bersabda:
“Sesungguh-nya hari-hari yang paling mulia disisi Allah adalah hari Nahr, kemudian hari qar”

hari Qar adalah hari menetap di Mina, yaitu tanggal 11 Dzul Hijjah. Ada juga yang mengatakan bahwa hari Arafah lebih mulia dari hari Nahr, karena puasa pada hari itu menghapus dosa dua tahun, dan tidak ada hari yang lebih banyak Allah bebaskan orang dari neraka kecuali hari Arafah, dan karena pada hari tersebut Allah mendekat kepada hamba-Nya, kemudian Dia membanggakan kepada malaikat-Nya terhadap orang-orang yang sedang wukuf.
hendaklah setiap muslim baik yang melaksanakan haji atau tidak berupaya sungguh-sungguh untuk mendapatkan keutamaan hari tersebut dan menggunakan kesempatan sebaik-baiknya.

Hendaklah setiap muslim berupaya untuk menyambut musim kebaikan ini secara umum dengan  taubatan nasuha (taubat sungguh-sungguh), meninggalkan dosa dan kemaksiatan, karena dosa-dosalah yang mencegah dari manusia karunia rabb-Nya, dan menutup hatinya dari Tuhannya. Begitu juga dituntut untuk menyambut musim ini dengan tekad yang kuat dan sungguh-sungguh untuk mendapatkan keuntungan atas apa yang Allah ridhoi.


فضل عشر ذي الحجة أحكام الأضحية وعيد الأضحى المبارك  (باللغة الإندونيسية)



Kamis, 03 Juli 2014

Penipuan Terbesar dalam Sejarah Umat Manusia

Penggunaan uang kertas sebagai alat tukar memang tak masuk akal. Uang kertas 100.000 dengan uang kertas 1000, mungkin berasal dari bahan kertas yang sama dan tak bernilai banyak, tapi keduanya jadi memiliki harga yang berbeda dan bisa ditukarkan dengan benda lain yang jauh lebih berharga.
Penukaran ini tak ubahnya "BARTER", namun kita telah ditipu hanya dengan menukarkan uang kertas ini bisa mendapatkan banyak hal. tetapi kita tidak tahu pada saat yang sama negara terus berhutang kepada bank asing.

Jika di dunia ini hanya ada 1 kertas uang bernilai 1 dolar di bank. dan kemudian kita pinjam dengan bunga 1 dolar juga. Maka artinya kita harus mengembalikan 2 dolar kepada bank tersebut. lantas dimana kita bisa mendapatkan 1 dolarnya lagi?
Jawabannya adalah Bank tersebut mencetak lagi uang dolar lalu kita pinjam lagi, untuk bisa melunasi hutang kita. Jadilah sekarang ada 2 dolar uang kertas di dunia. tapi tak bisa berhenti disitu, kita masih ada hutang 1 dolar di bank tersebut dan ditambah bunga jadi 2 dolar. begitu seterusnya.
Sistem ini adalah sistem riba. dan kita adalah pelaku kecilnya.
Baiklah untuk lebih jelasnya bagaimana rumitnya sistem ini dijalankan, lihat video dibawah ini :

Komplot Penipuan Terbesar Didalam Sejarah Umat Manusia

Selasa, 06 Mei 2014

Taqlid (bagian 4)

Bahaya Taqlid.
Taqlid buta dapat menimbulkan fanatisme yang berlebihan. Jika ini yang terjadi, maka tidak ada penghargaan lagi terhadap pendapat orang lain. Yang penting adalah kata Imamku, kata Kyaiku, kata Ulamaku, yang benar adalah mazhabku, kelompokku dan partaiku. Tak peduli lagi salah atau benar. Tidak jarang hal seperti ini menimbulkan konflik dan gesekan dengan pihak lain dan tidak jarang berakhir dengan kerugian materi bahkan nyawa.
Jika sudah seperti ini, maka yang terjadi ialah perpecahan, perbedaan tidak lagi membawa rahmat, tapi membawa laknat.

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat” QS. Ali Imran : 105

Taqlid buta akan menyuburkan kecenderungan untuk pasrah, Ijtihad yang merupakan upaya sungguh-sungguh untuk mengambil kesimpulan hukum dari dalil-dalil yang ada akan menjadi lesu. Produktifitas intelektualitas akan menjadi lesu, kreatifitas mati suri, inovasi terhambat, umat menjadi tidak kritis. Jika ini yang menimpa mayoritas umat islam, maka dalam bidang apapun akan selalu ketinggalan. Hanya membebek orang yang dianggap lebih superior, orang yang seperti ini akan menggoda oenguasa dan pemuka agama untuk melakukan penyimpangan.

Membolehkan begitu saja taqlid buta sama saja seperti melantunkan inferioritas, rendah diri, tidak percaya dengan kemampuan sendiri. Jika ini yang terjadi pada umat dan bangsa, maka umat pada bangsa ini tidak akan pernah jadi pemain, tidak akan jadi penentu, hanya akan jadi mainan, hanya akan menjadi buih di lautan.

"Hampir tiba suatu masa dimana bangsa-bangsa lain akan datang mengerumuni kamu bagaikan orang-orang kelaparan mengerumuni hidangan mereka." 

Maka salah seorang sahabat bertanya,"Apakah karena jumlah kami yang sedikit pada masa itu?" 

Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menjawab,"Bahkan, pada masa itu jumlah kamu banyak sekali, tetapi kamu umpama BUIH di lautan, dan Allah akan mencabut 'rasa gentar' terhadap kamu dari hati musuh-musuh kamu, dan Allah akan melemparkan ke dalam hati kamu penyakit al-wahnu."

 Seorang sahabat bertanya, "Apakah itu al-wahnu itu, ya Rasulullah?" 
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menjawab, "Cinta dunia dan takut mati." (HR Abu Dawud & Ahmad) 

Penyakit taqlid buta juga akan cenderung mengkultuskan atau menganggap suci orang yang diikuti, juga akan memperlakukan atau memuji secara berlebihan, menganggap suci apapun yang berhubungan dengan orang tersebut. Padahal Rasulullah S.A.W. yang merupakan manusia terpilih melarang untuk memuji diri beliau secara berlebihan.

“Janganlah kalian berlebih- lebihan dalam memujiku, sebagaimana orang- orang Nasrani telah berlebih- lebihan memuji ‘Isa putera Maryam. Aku hanyalah hamba- Nya, maka katakanlah, “’Abdullaah Wa Rosuuluhu (hamba Alloh dan Rasul- Nya)”. [HR. al- Bukhori]             

Pujian berlebihan bisa dalam bentuk memuji dengan sifat-sifat yang hanya berhak untuk Allah atau memuji dengan hal yang mengada-ada dan bohong.

Taqlid (bagian 3)

Lihatlah bagaimana sesatnya kaum nabi Nuh karena ikut-ikutan menyembah arca-arca yang dibuat oleh nenek moyang mereka, yang mereka sendiri tiadk mengerti untuk apa arca-arca itu dibuat oleh nenek moyang mereka.

“Dan mereka berkata: "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa', yaghuts, ya'uq dan nasr” QS. Nuh : 23

Suwwa', yaghuts, ya'uq dan nasr adalah nama-nama arca yang disembah oleh kaum Nabi Nuh. Tadinya itu adalah nama-nama orang-orang saleh di antara mereka. Ketika orang-orang saleh tersebut meninggal, setan membujuk mereka untuk membuat arca sebagai monument untuk mengenang mereka. Generasi pun berganti, mereka tidak mengerti untuk apa monument-monumen tersebut, mereka pun menyembahnya, generasi yang selanjutnya mengikuti begitu saja, tanpa mempertanyakan sebab dan alasannya. Itulah taqlid buta.

Sikap taqlid mereka ini diperparah oleh rahib mereka yang menyimpang yang menyelewengkan ayat-ayat Allah untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Yang halal menjadi haram, sementara yang haram mejadi halal. Yang benar dipropagandakan menajdi batil, sebaliknya yang batil dipoles supaya tampak menjadi benar. Mereka mempermainkan ayat-ayat Allah sesuai dengan bayaran dan keuntungan duniawi yang mereka dapatkan.

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” QS. Al Baqarah : 79