Minggu, 09 Desember 2012

RUHUL ISTIJABAH

Secara bahasa ruhul berarti ruh atau jiwa, dan istijabah berarti menjawab panggilan, sehingga Ruhul Istijabah bisa memiliki makna jiwa yang menjawab panggilan. Jiwa yang bersemangat menyambut panggilan da’wah menunjukkan adanya keseriusan (jiddiyah) karena keseriusan adalah salah satu ciri kader militan. Keimanan seseorang belum sempurna kecuali apabila mendengar panggilan Allah dan Rasul-Nya segera menyambut panggilan tersebut dengan senang hati dan penuh semangat, Al-Qur’an mengingatkan kita tentang hal itu “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasai antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan”. (Q.S. AI-Anfal :24 ).
Para sahabat Rasul di saat menjelang perang Badar, ketika Rasul ingin mengetahui kesiapan mereka untuk perang menghadapi musyrikin Quraisy, mengingat tujuan awal mereka bukan untuk perang tetapi untuk menghadang kafilah dagang yang dipimpin oleh Abu Sufyan, namun kafilah itu berhasil meloloskan diri dari hadangan kaum muslimin, maka Rasul bermusyawarah dengan mereka tentang apa harus dilakukan.  Saat itu Miqdad bin Amr khawatir kalau ada di antara kaum Muslimin yang masih berfikir seribu kali untuk melakukan peperangan. Karena itu sebelum angkat bicara, Miqdad ingin mendahului mereka, agar dengan kata-katanya yang tegas dapat mengobarkan semangat juang dan bisa menjadi pendapat umum.
Tapi sebelum ia menggerakkan kedua bibirnya, Abu Bakar Ash Shidiq sudah mulai bicara. Apa yang dikemukakan Abu Bakar sangat baik, Miqdad pun tenang. Kemudian Umar angkat bicara. Pendapatnya juga baik.
Setelah itu barulah Miqdad angkat bicara : “Wahai Rasulullah, jangan ragu! Laksanakanlah apa yang telah diberitahukan Allah kepadamu, kami tetap bersamamu. Demi Allah kami tidak akan mengatakan kepadamu seperti apa yang dikatakan Bani Israel kepada Nabi Musa, yaitu “Pergilah kamu bersama Rabbmu dan berperanglah, kami tetap duduk di sini”. Tetapi kami akan mengatakan kepadamu, “Pergilah kamu ber-sama Rabbmu dan berperanglah, kami ikut berperang bersamamu”. Demi Allah Yang Mengutusmu membawa kebenaran, seandainya engkau mengajak kami menerjuni lautan lumpur, kami akan patuh. Kami berjuang bersamamu dengan gagah berani hingga mencapai tujuan, dan kami akan bertempur di sebelah kanan dan kirimu, dibagian depan dan belakangmu, sampai Allah memberimu kemenangan.
 Setelah sahabat Muhajirin, sahabat Anshar yang diwakili oleh Sa’ad bin Mu’adz menyampaikan sikapnya: ”Ya Rasulullah, kami telah beriman kepadamu dan kami bersaksi bahwa apa yang kamu bawa adalah benar, atas dasar itu kami telah menyatakan janji untuk senantiasa taat dan setia kepadamu. Wahai Rasulullah lakukanlah apa yang kau kehendaki, kami tetap bersamamu.Tidak ada seorangpun diantara kami yang mundur dan kami tidak akan bersedih jika kamu menghadapkan kami dengan musuh esok hari. Kami akan tabah menghadapi peperangan dan tidak akan melarikan diri. Semoga Allah akan memperlihatkan kepada kamu apa yang sangat kamu inginkan dari kami. Marilah kita berangkat Ilahi.
Dalam riwayat lain, bahwa Saad bin Muadz berkata kepada Rasulullah, “Barang kali kamu khawatir jika kaum Anshar memandang bahwa mereka wajib menolongmu hanya di negeri mereka. Saya sebagai wakil kaum Anshar menyatakan, jalankan apa yang kau kehendaki, jalinlah persaudaraan dengan siapa saja yang kau kehendaki dan putuskanlah tali persaudaraan dengan siapa saja yang kau kehendaki. Ambillah harta benda kami sebanyak yang kau perlukan dan tinggalkanlah untuk kami seberapa saja yang kamu sukai, apa saja yang kau ambil dari kami itu tebih kami sukai daripada yang anda tinggalkan. Apapun yang kamu perintahkan maka kami akan mengikutinya, demi Allah jika kamu berangkat sampai ke Barkul Ghimad kami akan berangkat bersamamu, demi Allah seandainya kamu menghadapkan kami pada lautan kemudian kamu terjun ke dalamnya maka kamipun akan terjun ke dalamnya bersamamu. (Rakhikul Makhtum 285-286 ).
Hasan AI-Banna berkata da’wah pada tahap pembinaan (takwin) shufi disisi ruhiyah dan askari (kedisiplinan) dari sisi amaliyah (operasional), slogannya adalah amrun wa thoatun (perintah dan laksanakan ) tanpa ada rasa bimbang, ragu, komentar, dan rasa berat’. (Risalah Pergerakan 2).
Empat Aspek Ruhul Istijabah
1.   Istijabah Fikriyah (Menyambut dengan pikiran /dengan sadar).
Kader da’wah ketika mendapat tugas dari Murobbi, Pembina, maupun Qiyadah tidak hanya sekadar melaksanakan perintah dan tugas, tetapi ia sadar betul apa yang dikerjakannya adalah dalam rangka taat kepada Allah dan meraih ridho-Nya, bila dilakukan mendapat pahala dan bila tidak dilakukan dosa.
Karena itu para kader da’wah harus memahami, bahwa melaksanakan perintah dan tugas yang datang dari Murobbi, Pembina atau Qiyadah dalam rangka taat kepada Allah. karena Allah telah mewajibkan taat kepada pemimpin : “Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul serta (taatilah) pemimpin kamu… ” (An-Nisaa:59).
Demi laksananya tugas secara maksimal maka seorang kader selalu memikirkan tentang bagaimana cara melaksanakan tugas dengan baik, maka ia harus memperhatikan waktu, cara dan sarana yang tepat sehingga pekerjaan dapat diselesaikan sesuai perintah, rencana, tujuan serta sasaran yang telah ditetapkan.
Bahkan harus memiliki kemampuan memberikan saran, pendapat dan pandangannya demi terselenggaranya program dengan baik, seperti yang dilakukan oleh sahabat Habab bin AI Mundzir ketika mengusulkan tempat yang strategis untuk posisi pasukan kaum muslimin pada perang Badar.
Habab berkata, ”Wahai Rasulullah, apakah dalam memilih tempat ini anda menerima wahyu dari Allah sehingga tidak dapat diubah lagi, ataukah strategi perang? Tempat ini kupilih berdasarkan strategi perang”. Kemudian Habab berujar kembali, “Wahai Rasulullah tempat ini tidaklah strategis. Ajaklah pasukan pindah ke tempat air yang terdekat dengan musuh. Kita membuat markas di sana dan menutup sumur-sumur yang ada di belakangnya, kemudian kita buat kubangan dan kita isi dengan air hingga penuh. Dengan demikian kita berperang dalam keadaan mempunyai persediaan air minum”. Rasulullah menjawab, “Pendapatmu sungguh baik”.
Begitu pula, pada saat pasukan koalisi, yang terdiri dari kaum Musyrikin, bangsa Yahudi dan orang-orang Munafik menyerang Madinah, Sahabat Salman Al-Farisi menyampaikan usulannya kepada Rasulullah yaitu menggali parit di sekeliling Mmadinah, kemudian Rasulullah menerima usulan tersebut dan menjadi strategi perang yang ditetapkannya sehingga perang itu diberi nama dengan perang Khandak (parit).
Pada perang Qodisiah, perang antara tentara pasukan Persia, yang terjadi di Irak pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, Qoqo bin Amr terus berpikir untuk menaklukkan pasukan bergajah yang menjadi andalan pasukan Persia. Sampai akhirnya Qoqo mendapatkan sebuah ide, untuk membuat patung gajah, agar kuda-kuda milik kaum Muslimin terbiasa melihat gajah sehingga ketika kuda-kuda itu berhadapan dengan gajah-gajah yang sebenarnya, tidak takut menghadapinya. Ternyata ide Qoqo ini menghasilkan buah. Pada perang Qodisiah tentara kaum Muslimin berhasil menaklukan tentara Persia yang mengandalkan pasukan bergajahnya. Khalifah Umar bin khattab pernah berucap, “Tidak akan terkalahkan kaum muslimin selama di sana ada Qoqo bin Amr”.
Dalam surat Ar-Ra’d ayat 19 Allah mengingatkan kita akan keistimewaan orang-orang mengoptimalkan akal pikirannya: “Apakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb¬mu itu benar, sama dengan orang yang buta (tidak menggunakan akal pikirannya). Hanya orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran”.

2. Istijabah Nafsiyah (Menyambut dengan perasaan/emosi).
Para aktivis dan kader da’wah bila mendapat perintah dan tugas, baik tarbawi, da’awi maupun tanzhimi harus menyambutnya dengan perasaan senang, gembira, bahagia dan bersemangat untuk melaksanakannya. Janganlah perintah dan tugas itu disambut dengan rasa berat, malas, enggan dan tidak bergairah. Apapun kondisi yang terjadi pada diri kita, baik dalam keadaan susah, berat maupun kekuatan ma’nawiyah tidak mendukung, apalagi dalam keadaan bergembira.
Bila datang panggilan da’wah kita tidak boleh menolaknya atau merasa enggan dan malas memenuhinya. Allah berfirman: ”Berangkatlah kamu dalam keadaan merasa ringgan ataupun ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah, yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”(Q.S. At-Taubah :41).
Kemudian pada ayat yang lain Allah menjelaskan, ”Hai orang-orang yang beriman apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu ‘Berangkatlah untuk berperang di jalan Allah’,  kamu merasa berat dan ingin di tempatmu. Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia itu dibandingkan dengan kehidupan di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu “. (Q.S. At-Taubah:38-39).
Para kader yang dibina oleh Rasulullah ketika mendengar panggilan jihad mereka berlomba-lomba untuk memenuhinya dengan harapan mendapat kesempatan mati syahid di jalan Allah. Kelemahan fisik tidak menjadi alasan untuk tidak berangkat memenuhi panggilan jihad, bahkan bila mereka tidak dapat memenuhi panggilan jihad karena udzur, mereka menangis. “Dan tidak berdosa atas orang-orang yang apabila datang kepadamu sepaya kamu memberi mereka kendaraan. Lalu kamu berkata : ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu’. Lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan”. (At-Taubah: 92).
Mereka begitu semangat dalam melaksanakan perintah da’wah, perintah tersebut dikerjakan dengan suka cita, riang, gembira serta bahagia, bila mereka dapat melakukannya dengan baik. Sebaliknya, mereka bersedih dan berduka cita bila tidak dapat menjalankan perintah walaupun disebabkan udzur.

3. Istijabah Maaliyah (Menyambut dengan harta).
Da’wah untuk menegakkan dinul Islam muka bumi adalah kerja besar bahkan tidak ada pekerjaan yang Iebih besar darinya. Kerja besar ini membutuhkan dana yang besar pula sebagaimana lazimnya proyek besar. Dalam proyek da’wah pendanaan ditanggung oleh para da’i sendiri.
Berkorban dengan harta dan jiwa sudah menjadi satu paket yang tidak boleh dipisahkan satu dari yang lainnya. Seperti apa yang Allah rmpaikan dalam Qur’an, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang yang beriman, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka… ” (At-Taubah : 111).
Kemudian ayat lain Allah menjelaskan, “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? Yaitu, kamu beriman pada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya. ” (As-Shaff : 10- 11).
Kader da’wah tidak pelit dengan hartanya untuk pembiayaan berbagai kegiatan da’wah dalam da’wah para kader dan aktivis siap mengorbankan hartanya, jangan mengharapkan keuntungan materi serta harta benda dari da’wah. Khadijah isteri Rasulullah telah memberikan seluruh kekayaannya untuk kepentingan da’wah. Pada perang tabuk kaum muslimin berlomba-lomba menginfakkan hartanya dan bersodaqah.
Usman bin Affan sebelumnya telah menyiapkan kafilah dagang yang akan berangkat ke Syam berupa dua ratus onta lengkap dengan pelana serta barang-barang yang berada di atasnya, beserta dua ratus uqiyyah. Setelah mendengar pengumuman Rasulullah, Usman datang pada Rasul kemudian menshadaqahkan semua itu. Kemudian Usman menambah lagi seratus onta dengan pelana dan perlengkapannya. Kemudian beliau datang lagi membawa seribu dinar diletakkan di pangkuan Rasulullah. Rasulullah memperhatikan apa yang dishadaqahkan oleh Usman itu seraya berkata: “Apa yang diperbuat oleh Usman setelah ini, tidak akan membahayakannya”. Usman terus bershadaqah hingga jumlahnya mencapai sembilan ratus ekor onta dan seratus ekor kuda, belum termasuk uang.
Setelah Usman selesai memberikan shadaqah, giliran Abdur Rahman bin Auf datang membawa Dua ratus uqiyyah perak, tak lama setelah Abdur Rahman, datanglah Abu Bakar dengan membawa seluruh hartanya yang jumlahnya Empat ribu dirham, sampai-sampai beliau tidak menyisakan hartanya untuk keluarganya kecuali Allah dan Rasulnya. Kemudian shahabat-shahabat yang lain berdatangan. Umar menyerahkan setengah hartanya. Al-Abbas datang menyerahkan hartanya yang cukup banyak. Thalhah, Sa’ad bin Ubadah, Muhammad bin Maslamah semuanya datang menyerahkan shadaqahnya. Tidak ketinggalan Ashim bin Adi datang menyerahkan sembilan puluh wasaq kurma. Kemudian diikuti sahabat yang lain mulai dari yang sedikit sampai yang banyak. Sampai ada di antara mereka yang berinfaq dengan segenggam atau dua genggam kurma, karena hanya itu yang mereka mampu lakukan. Kaum wanitapun menyerahkan berrbagai perhiasan yang yang mereka miliki, seperti gelang tangan, gelang kaki, anting-anting dan cincin. Tidak ada seorangpun yang kikir menahan hartanya kecuali orang-orang Munafq.
Allah berfirman : “Orang-orang Munafiq yang mencela orang-orang Mu’min yang memberi shadaqah dengan sukarela, dan merekapunv menghina orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dishadaqahkan sekedar kesanggupannya”. (At -Taubah :79)

4. Istijobah Harakiyah (Menyambut dengan aktivitas)
Aktivis da’wah adalah yang orang aktif dalam kegiatan da’wah, selalu hadir dalam kegiatan da’wah dan berusaha untuk berada di barisan orang-orang mengutamakan kerja daripada berbicara. Bahkan berupaya untuk berada di garda terdepan dalam mempertahankan dan membela Islam.
Perlu diingat, tugas da’wah yang diemban aktivis sangat banyak., lebih banyak dari waktu yang tersedia. Tugas antara lain, pertama: Kewajiban dalam Tarbiyah, tujuannya, agar kualitas dan dan mutu kader semakin baik. Kedua: Kewajiban dalam Da’wah, tujuannya, agar penyebaran da’wah semakin luas. Ketiga: Kewajiban yang sifatnya tanzhimiyah, bertujuan, agar amal jama’i stuktural semakin kokoh.
Bila kita pelajari siroh Nabawiyah dan siroh As-Salaf As-Shalih, kita bisa lihat, pola kehidupan mereka. Mereka lebih banyak bekerja untuk umat dibanding untuk diri dan keluarga mereka karena kesibukan yang begitu padat hampir tidak ada waktu untuk istirahat, bahkan tidak menyempatkan diri untuk istirahat. Para sahabat Rasul tidak pernah berhenti berjihad di jalan Allah, sebagian ahli sejarah mencatat sebanyak seratus kali peperangan selama sepuluh tahun Rasul di Madinah, baik yang dipimpin langsung oleh Rasul dan yang dipimpin oleh sahabatnya. Baik itu pertempuran besar maupun yangkecil, baik yang jadi maupun tidak jadi perang. Sehingga jika diambil rata, peperangan terjadi sebulan sekali, artinya mobilitas jihad sangat tinggi.
Begitu pula di masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq. Peperangan dilakukan selama dua tahun tiga bulan sepuluh hari, belum lagi peperangan yang dipimpin oleh Khalid bin Walid yang jumlahnya sebanyak dua puluh kali peperangan yang dilakukan terus menerus secara berkesinambungan.
Melihat kondisi saat ini, dimana tuntutan da’wah begitu besar, yang disertai ancaman global, tentu hal ini, menuntut kesungguhan, keseriusan serta mobilitas da’wah dan jihad yang tinggi, jika tidak maka kekuatan batil yang akan berkuasa di bumi ini. Dalam hal ini, Allah berfirman, “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan, ikutilah agama orang tua Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan begitu pula dalam al-Qur’an ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung”. (AI-Hajj :76 ).

Kamis, 04 Oktober 2012

KAMPUS JALANAN

Jika masuk ke kampus-kampus perguruan tinggi kita sekarang ini, Anda akan sedikit sekali menemukan sisa-sisa rasa malu dalam cara-cara berpakaian mahasiswinya dan gaya pergaulan antara mahasiswa dan mahasiswi.

Apakah aksi membadut dan saling dorong-mendorong dengan tangan di antara para mahasiswi, bahkan antara mereka dan para mahasiswa, menunjukkan masih adanya rasa malu dalam diri mereka?

Apakah duduk di trotoar dengan menyilangkan kaki menunjukkan rasa malu?

Apakah aksi sepasang muda-mudi yang saling menempelkan kepala di pojokan kampus dengan asumsi tidak ada orang lain yang melihat mereka masih bisa disebut memiliki rasa malu?

Apakah tertawa lepas, teriakan melengking, dan memanggil-manggil lawan jenis dengan suara keras menunjukkan rasa malu?

        Ayah manapun akan merasa malu jika masuk kampus dan melihat perilaku anak-anak gadis seperti itu!
        Melihat pemandangan naif seperti itu, seorang muslim (sejati) pun akan mengelus dada, mengembuskan desah kesedihan, mengenang sekelompok perempuan shalihah yang rasa malunya telah membuat mereka merespons firman Allah, 
"Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya. . ."" (Q.S. An-Nur[24] :31)
       Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam Kitab Tafsirnya, "Semua ayat dalam Al-Qur'an yang menyinggung urgensi menjaga kemaluan selalu berdenotasi menjauhi zina, tetapi ayat ini (dan memelihara kemaluan mereka) memiliki arti janganlah ada seorangpun yang melihat auratnya."
       Lebih lanjut, Al-Maududi menjelaskan bahwa menjaga kemaluan mempunyai  dua arti.
       Pertama, menjaganya dari perbuatan haram, yaitu dari pemuasan syahwat dengan cara-cara haram. Inilah makna yang lahir (eksplisit) ari ayat tersebut.
      Kedua, menjaganya dari perbuatan haram, dengan tidak membuka aurat mereka kepada selain mereka.
     Para ulama sepakat bahwa aurat perempuan di hadapan laki-laki adalah seluruh badannya kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Aplikasi firman Allah kepada Muslimah : (dan memelihara kemaluan mereka) dalam surat An-Nur ini adalah dengan menutup semua tubuhnya di depan laki-laki asing kecuali wajah dan dua telapak tangannya.
      Rambut, paha, dan lengan adalah aurat bagi wanita. Jika memakai pakaian yang bisa memperjelas bagian-bagian tubuhnya, ia sama saja dengan membuka auratnya, meskipun pakaian tersebut menutupi tubuhnya.
       Begitu pula jika memakai pakaian transparan, dia sama saja dengan membuka auratnya meskipun pakaian itu menutupi tubuhnya.

(dikutip dari buku Manajemen Diri Muslimah bag.2 Dr.Akram Ridha )
Semoga bermanfaat :)

Sabtu, 22 September 2012

MARI KITA BELAJAR MEMAAFKAN BERSAMA ABU BAKAR

Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud dengan sanad yang tidak bermasalah, dari Abu Hurairah r.a. tuturnya sebagai berikut :
Seorang laki-laki mencaci maki Abu Bakar. Nabi saw. hanya duduk-duduk saja menunjukkan kebanggaan (terhadap sikap Abu Bakar yang tetap tidak membalas) sembari mengurai senyum. Namun ketika laki-laki tersebut semakin menjadi-jadi dan Abu Bakar terpancing lalu membalas dan membalikkan beberapa patah kata terhadap laki-laki tersebut, Nabi saw.pun marah dan bangkit pergi.
Abu Bakar segera menyusulnya dan berseru, "Wahai Rasulullah, ia mencaci maki saya dan Anda tetap duduk. Lalu, ketika saya balikkan beberapa ucapannya, mengapa Anda marah dan langsung pergi?"

Beliau menjelaskan, "Selama kamu dicaci maki dan tidak membalas, malaikat tadi terus bersamamu dan membalaskan cacian tersebut untukmu. Namun ketika kamu membalas dan membalikkan beberapa ucapannya, syaitan pun muncul. Dan aku tidak mau duduk bersama syaitan."

Selanjutnya beliau bersabda, "Hai Abu Bakar, ada tiga hal yang semuanya benar:
1. tidak seorang hamba yang dizalimi dengan suatu kezaliman, tetapi ia mengabaikannya demi Allah kecuali Allah akan memuliakan dan memenangkannya;
2. tidak pula seorang laki-laki membuka pintu pemberian dengan tujuan menyambung tali silaturahmi, kecuali Allah akan menambahinya dengan berlimpah;
3. tidak ada seorang laki-lakipun yang membuka pintu permohonan dengan tujuan mencari kelebihan, kecuali akan Allah tambahkan kepadanya kekurangannya"*


*Dilansir oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya disertai komentar. Hadits ini sangat bagus dari segi makna dan cocok dengan kondisi Abu Bakar Ash Sidiq r.a.

JEJAK CINTA DALAM HATI - MANAJEMEN AKHLAK

“Rasulullah saw bersabda : ‘Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan keshalihan akhlak’” (HR.Imam Ahmad dari Abu Hurairah.r.a)
Ketika Rasulullah SAW ditanya oleh sahabatnya Nuwwas bin Sam’an mengenai kebajikan dan dosa, Rasul menjawab : “Kebajikan adalah kebaikan budi dan dosa adalah hal-hal yang membekas di dalam hati dan kamu tidak suka jika hal itu diketahui manusia” (HR. Muslim)

Ketika Rasulullah SAW melihat antusiasme dan kerinduan para sahabat akan surga dan keinginan mereka untuk tinggal berdampingan dengan Rasulullah disana, Rasul pun memberitahu mereka bahwa jalan untuk merealisasikannya adalah dengan kebaikan akhlak.

Rasulullah bersabda “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai diantara kalian dan paling dekat tempat tinggalnya denganku di hari kiamat kelak diantara kalian adalah orang yang paling baik budi pekertinya. Dan orang yang paling aku benci diantara kalian dan paling jauh tempat tinggalnya denganku di hari kiamat adalah orang yang banyak mulut, bermulut usil dan bermulut besar.” (HR.At Tirmidzi dari Jabir bin Abdullah dengan status Hasan)

Allah SWT menginginkan alam semesta Yang Diciptakan-Nya ini makmur dan berkembang, oleh karena itu Allah mengutus umat manusia sebagai khalifah-Nya untuk mengatur dan mengolah bumi, serta mendirikan bangunan interaksi sosial antarmanusia di atas fondasi-fondasi kebaikan budi. Nabi SAW juga menyerukan kepada umat manusia “Sesungguhnya orang yang paling baik diantara kalian adalah orang yang paling baik budi pekertinya diantara kalian” (HR. Bukhari dari Abdullah bin ‘Amru r.a.)

Pada kesempatan lain, beliau SAW bersabda “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam bandul timbangan orang mukmin di hari kiamat daripada kebaikan budi dan Allah benar-benar membenci orang yang berperilaku bejat dan amoral” (HR. At-Tirmidzi dengan komentar “Ini adalah hadits Hasan Shahih dari Ummu Abu Ad Darda’ r.a. dari Abu ad-Darda’ r.a.”)

Perintah-perintah Allah SWT. selalu ditujukan secara umum, baik laki-laki maupun perempuan. Allah berfirman “Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (Q.S. An-Nahl, 16 : 97)

“Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat maka dia akan dibalas sebanding dengan kejahatannya itu. Dan barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia dalam keadaan beriman maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rizki di dalamnya tanpa hisab.” (Q.S. Al-Mu’min, 40 : 40)

Untuk mencapai upaya kesuksesan di dunia dan di akherat bagi umat muslim, akan kita letakkan dihadapan mereka stasiun manajemen diri layaknya stasiun pengisian bahan bakar, sehingga mereka mampu menempuh perjalanan tanpa hambatan kegagalan karna kekurangan bahan bakar dan bekal.

Stasiun yang pertama adalah menepati sunah-sunah fitrah dan mencegah lebih baik daripada mengobati. Pada stasiun ini kita terapkan moto “Muslimah modern harus berfisik bugar agar tidak loyo dalam menempuh perjalanan panjang menuju terminal akhir kesuksesan hidup dan tidak disibukkan dengan perbaikan fisik sehingga menghambat laju dan gerakan”
Selanjutnya kami undang kaum Muslimah di stasiun yang kedua. Di depan stasiun ini terpampang moto“Perhiasan perempuan adalah kebaikan budi”. Kami berharap setelah keluar dari sana Muslimah bisa menjadi perempuan yang berkepribadian kokoh.


Tidak akan jemu untuk kami ulangi ungkapan “Teladanilah sosok ma’shum yang mengikutinya saja sduah berpahala.”
Meski manusia dari belahan barat sampai belahan timur, mengekor dan mengidolakan tokoh ini dan itu serta mencari-cari prinsip ini dan itu, sebagai seorang Muslimah kita harus tetap berjalan di belakang Rasul tercinta.

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (Q.S. Al-Ahzab[33] : 21)

Dari Anas r.a., tuturnya “Saya menjadi pelayan Nabi SAW. selama 19 tahun dan selama itu belum pernah sekalipun beliau berkata huss (mencela) saya, baik terhadap apa yang saya lakukan maupun yang belum saya kerjakan.” (HR. Al Bukhari)

Kebaikan budi Rasulullah SAW juga tercermin dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., tuturnya “Nabi SAW. tidak pernah mencela makanan satu pun, jika suka beliau akan memakannya dan jika tidak suka beliau akan meninggalkannya.”
Hal senada juga dituturkan oleh Anas bin Malik r.a. bahwa Nabi SAW. bukanlah orang yang suka mencela, berkata kotor, mengutuk. Ketika menegur salah seorang dari kami, beliau hanya menyindir, “Mengapa gerangan keningnya berdebu?”

Sa’ad bin Hisyam bin ‘Amir bertanya kepada Sayyidah A’isyah r.a. katanya, “Wahai Ummul Mukminin, ceritakanlah kepada saya mengenai akhlak Nabi SAW.?”
Ia balik bertanya, “Apakah kamu tidak membaca Al-Qur’an?”
Ia jawab “Tentu saja baca.”
Ia pun menukas, “Sesungguhnya akhlak Nabi SAW. adalah Al Qur’an” (HR. Muslim)

Dari A’isyah r.a. tuturnya “Rasulullah SAW. tidak pernah memukul sesuatupun dengan tangannya, baik istri maupun pembantunya, kecuali saat jihad di jalan Allah. Beliaupun tidak pernah dilapori sesuatu, kemudian menghukum pelakunya, kecuali jika ia benar-benar telah melanggar batas-batas keharaman Allah, maka beliaupun akan menghukumnya demi Allah SWT.”

Dari Anas bin Malik r.a. tuturnya, “Saya pernah berjalan bersama Nabi SAW. dan beliau kala itu mengenakan jubah ala Najrani yang berpinggiran kasar. Tiba-tiba seorang Badui muncul dan langsung menarik jubah tersebut dengan sentakan yang kasar hingga saya lihat pundak Nabi SAW. tergores oleh pinggiran jubbah akibat ditarik terlalu kasar.
Si Badui kemudian berkata ‘Berikanlah kepadaku sebagian dari harta Allah yang engkau miliki.’ (Bukan marah-marah) Beliau malah menoleh kepada saya sembari tertawa kemudian memerintahkan saya untuk memberinya sedekah.”

Dari Aisyah, istri Nabi SAW. bahwasanya Rasulullah SAW. bersabda, “Hai Aisyah, sesungguhnya Allah adalah Sang Mahalembut yang menyukai kelembutan dan memberikan porsi tertentu pada kelembutan yang tidak diberikan-Nya pada kekerasan ataupun pada yang lain.

Nabi SAW.suka menunggang keledai, kemudian berjalan mengiringinya sembari menyambangi orang-orang miskin, berkumpul dengan orang-orang fakir, duduk-duduk dengan para sahabatnya, dan berbaur dengan mereka dimanapun tempatnya.

Beliau selalu ceria, berwatak gampang, lembut; bukan tipe orang yang kasar, galak, bersuara keras, suka berkata kotor, mencela, ataupun menyanjung. Jika tidak suka sesuatu beliau akan mengesampingkannya tanpa mencela dan menjelek-jelekkannya.

Aisyah r.a. pernah ditanya, “Apa yang dilakukan Rasulullah saw. dirumahnya?” Ia jawab, “Beliau selalu melayani keluarganya dan jika datang waktu shalat beliau langsung mengambil air wudhu dan keluar menunaikan shalat.”

Riwayat dari Abdullah bin Harits, tuturnya, “Belum pernah aku lihat seorang pun yang lebih bayak senyumnya daripada Rasulullah SAW.”

Begitulah Akhlak Rasulullah dan begitulah sebagian teladan yang telah dipaparkan. Adakah orang berakal yang menentangnya sebagai teladan terbaik?


  1. Akhlak dan Iman

Islam tidak hanya menganjurkan kebaikan budi semata, tetapi juga menjelaskan bahwa kelemahan moral merupakan indikasi kelemahan iman.

Dari Abu Syuraih, “Nabi SAW bersabda, ‘Demi Allah, ia tidak beriman! Demi Allah, ia tidak beriman! Demi Allah ia tidak beriman!
Beliaupun ditanya, ‘Siapa yang Anda maksud wahai Rasulullah?
Beliau menjawab ‘Orang yang tetangganya merasa tidak nyaman dengan ulah bicaranya’”
(HR. Al Bukhari)

Dari Abu Hurairah r.a. tuturnya, “Rasulullah bersabda ‘Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya.
Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia menghormati tamunya.
Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata baik atau diam saja.’”
(HR. Al Bukhari)

Sudahkah kita tahu bagaimana kebaikan budi Rasulullah SAW? sudahkah kita tahu posisi sentral akhlak dalam agama kita? Sudahkah kita tahu bahwa Rasul, Islam, dan risalah Islam sesungguhnya hanyalah imbauan untuk hidup bermoral, terhormat dan mulia di bawah benderanya?

2. Ia di Neraka
Dari Abu Hurairah r.a. tuturnya “Seorang laki-laki bertanya, ‘Wahai Rasulullah, si fulanah terkenal banyak shalat, puasa dan shadaqahnya, hanya saja ia suka menyakiti tetangganya dengan mulut usilnya’
Beliau menjawab, ‘Ia di neraka.’
Ia bertanya lagi ‘Wahai Rasulullah, si fulanah terkenal sedikit puasanya, shadaqahnya dan shalatnya. Ia suka memberi potongan keju pada tetangganya dan tidak pernah mengusili mereka dengan mulutnya.’ Beliau menjawab, ‘Ia di surga.’” (HR. Ahmad)

Dari Ummu Ad-Darda’ dari Abu Ad-Darda’ r.a., Rasulullah SAW dituturkan bersabda “Tidak ada sesuatupun yang diletakkan di dalam bandul timbangan yang lebih berat daripada kebaikan budi. Sesungguhnya pemilik akhlak yang baik melampaui derajat puasa dan shalat.”(HR. At-Tirmidzi)

Dari Aisyah r.a. tuturnya, “Rasulullah SAW. bersabda, ‘Sesungguhnya orang mukmin yang paling sempurna (keimanannya) adalah orang yang paling bagus budi pekertinya dan yang paling lembut dengan keluarganya’” (HR. At-Tirmidzi dg status shahih)

3. Perilaku Orang Munafik
Jika ada lima akhlak tercela menyatu dalam diri manusia, maka ia layak disebut munafik.

Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw, beliau bersabda, “Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia mengingkari, jika diberi kepercayaan ia berkhianat.” (HR. Al Bukhari)

Dari Abdullah bin ‘Amru dituturkan Rasulullah saw bersabda “Ada 4 hal yang jika keempatnya menyatu dalam diri seseorang maka ia disebut munafik tulen, dan jikahanya ada satu diantaranya maka ia tabiat munafik sampai ia meninggalkannya. (Keempatnya adalah) Jika berkata ia berbohong, jika bersumpah ia berdalih, jika berjanji ia mengingkari, jika berkonflik ia menyalahi.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat Muslim yang lainnya ditambahkan, “…meskipun ia puasa, shalat dan mengklaim dirinya Muslim.”

Jadi jumlah sifat-sifat munafik yang terhimpun dalam diri seseorang sbb:
  1. Jika berbicara ia berbohong,
  2. Jika berjanji ia mengingkari,
  3. Jika diberi kepercayaan ia mengkhianati,
  4. Jika bersumpah ia berdalih seribu alasan,
  5. Jika berseteru ia menyimpang.

    (Summary of MANAJEMEN DIRI MUSLIMAH - Dr. Akram Ridha - by Kharisma Arby)

Pindah Kampus Lagi?

        Pindah kampus lagi, namun aku berharap di kampus inilah aku bisa menyelesaikan S1-ku. Sebagai Sarjana Teknik dan sebagai Sarjana Komputer. Sungguh segala puji hanya bagi Allah, Yang telah memudahkan urusanku untuk menggapai cita-citaku semenjak kuliah di kampus lamaku UDINUS(Universitas Dian Nuswantoro), dari UDINUS inilah aku bisa mencicipi kuliah di negeri jiran, Malaysia tepatnya di UTeM(Universiti Teknikal Malaysia Melaka) dan mendapatkan beasiswa double degree di ITB(Institut Teknologi Bandung)
        Harapanku dalam meraih hal ini hanya agar aku tidak merepotkan orang lain lagi, terlebih orang tuaku atas biaya kuliahku. dan juga kepada dua orang yang sangat baik padaku selama aku tinggal di Semarang, mas Nardi dan mba Nana.
       Masih sangat kuingat dulu, saat acara motivasi bersama teman-teman rohis di UDINUS yang bernama BAI (Badan Matholi'ul Anwar), di acara Wisata Dawkah thn 2010, kutuliskan harapan2ku disana bersama sahabat-sahabatku. Kutuliskan bahwa aku ingin kuliah di luar negeri, dan aku ingin menjadi yang terbaik di kampus ini. Kuliah di luar negeri sudah, tapi mungkin untuk menjadi yang terbaik di kampus ini masih sangat rancu bagaimana tolok ukurnya. Cukup berharap aku bisa mendapatkan doublle degree ini aku sudah merasa bahwa Allah selalu mendengar do'a-do'aku. Sekarang aku berharap bisa meraih IPK Cumlaud dan emnjadi yang terbaik di kampus ITB, meskipun saya merasa minder dulu karna teman-teman lain juga sangat pandai. But, Allah with me :) Thanks for Allah, for Nabi  Muhammad saw, for my parent, n all of my close people