Kamis, 13 Desember 2012

MANIFESTASI "MALU" sebagai ETIKA ISLAM (Bagian Pertama)


Tahukah Anda darimana datangnya kekejian, kecabulan, dan penjarahan harta orang lain?

Tahukah Anda mengapa perempuan mau membuka beberapa bagian auratnya tanpa merasa sungkan-sungkan?

Tahukah Anda mengapa ketika para suami melihat pemandangan yang demikian tidak sedikitpun saraf kecemburuan bergerak?

Itulah jika rasa "malu" telah hilang!

A. Apa itu Malu???
1.Imam Nawawi menuturkan "Para Ulama mengatakan bahwa hakekat malu adalah sifat yang membangkitkan kehendak untuk meninggalkan kejelekan dan mencegah reduksi penunaian hak kepada setiap pemilik hak."
2.Abu Qasim Al-Junaid rahimahullah mengatakan "Malu adalah menyadari kesenangan-kesenangan (kenikmatan2) dan melihat kelalaian (kekurangan) yang pada akhirnya melahirkan sebuah keadaan yang disebut malu kepada Yang Memberi Nikmat"

Begitulah penuturan ulama mengenai definisi "Malu". Malu karena Iman adalah ekspresi malu sebagaimana dari Al-Junaid r.a. yaitu rasa yang membuat seorang mukmin urung melakukan maksiat karena perasaan serbasalah jikalau dilihat Allah swt.

Ali r.a. juga mengatakan, "Barangsiapa yang dibalut rasa malu maka orang-orang tidak akan melihat aibnya" (Dr.Abdul Latif, Al-Akhlaaq fi Al-Islam)

B. Malu Sebagian dari Iman
Rasulullah saw. secara khusus menyinggung malu dalam cabang-cabang keimanan.
"Iman itu ada 70 cabang, yang paling utama adalah ucapan Laa ilahaillallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalanan, sedangkan malu adalah sebagian dari iman" (H.R. Muslim, dari Abu Hurairah)

Rasulullah saw. bersabda "Malu dan iman selalu bersanding. Jika yang satu hilang maka hilanglah yang lain"[1]

Mengapa Malu Bisa Disebut sebagai Bagian Dari Iman??
Karena, keduanya sama-sama menganjurkan kebaikan dan menghindarkan keburukan.
1. Iman mengnjurkan berbuat ta'at dan menghindarkan maksiat.
2. Sementara malu mampu mencegah kealpaan untuk bersyukur kepada yang memberi nikmat dan mencegah kelalaian menunaikan hak orang yang memiliki hak.
3. Malu juga mencegah berbuat atau berkata kotor demi menghindari celaan dan kecaman.

Disinilah malu kemudian dinobatkan sbg sesuatu yg baik; 
Basyir bin Ka'ab menuturkan "Telah tertuang dalam hikmah diantara buah rasa malu adalah kewibawaaan dan ketenangan."

Ini yang B A - H A - Y A !
Kebalikan dari rasa malu adalah Cabul. Cabul adalah kejorokan dan keberangasan dalam berbicara atau berbuat. Muslimah (yang benar-benar muslimah) tidak mungkin berbuat keji, berkata jorok, kasar ataupun berangas, karena semua itu adalah sifat2 ahli neraka.

Muslimah adalah ahli surga, insyaAllah, sehingga ia pun tidak bersifat cabul ataupun berangasan. Diibuktikan dalam penuturan Nabi SAW. "Malu adalah sebagian dari iman; iman bertempat di surga. Sementara itu, cabul adalah sebagian dari keberangasan; keberangasan bertempat di neraka."

C. Sumber Rasa Malu
Sumber rasa malu adalah Pengetahuan akan kekuasaan Allah, kebesaran Allah, kedekatan-Nya dengan hamba, dan Kemahatahuan-Nya akan kebohongan mata dan rahasia yang tersembunyi di dalam dada.
Hal ini adalah derajat keimanan tertinggi, bahkan sudah merupakan aktualisasi Ihsan, Apa itu Ihsan??! Simak terus yuuk

"Suatu hari, Nabi saw. berada di tengah-tengah kerumunan orang ketika tiba-tiba malaikat Jibril datang menghampiri beliau dan berkata, "Apa itu Ihsan?" Beliau menjawab "Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka ketahuilah Dia yang melihatmu"(HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah r.a.)

D. Jika Anda Tidak Memiliki Rasa Malu..
Jika rasa malu telah hilang, semua pintu pun terbuka lebar-lebar, sebagaimana hadits riwayat Al-Bukhari dari Ibnu Mas'ud, tuturnya Rasulullah saw.bersabda, "Sesungguhnya di antara hal yang dipahami manusia dari sabda nubuwah pertama adalah : JIKA TIDAK MERASA MALU, BERBUATLAH SESUKAMU!"

2 pengertian hadits ini adalah :
1. Sebagai bentuk gertakan dan ancaman yang mirip dengan firman Allah SWT :
"Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS. Fushilat[41]:40)
2. Sebagai informasi tentang kondisi orang yang tidak memiliki rasa malu sehingga ia pun berbuat semaunya, tanpa batas, tanpa kendali. Karena yg bisa mencegah dari segala kejelekan adalah Rasa Malu.


Sifat malu Nabi Muhammad seperti apa ya? ,
Apa sih bedanya Malu dan Sungkan?,
Sifat Malu Perempuan di Tengah-tengah Laki-laki,
dan Bersalaman dengan yang bukan muhrim apa sih hukumnya? Akan dibahas di Artikel Selanjutnya ;)


[1] H.R. Al-Hakim dari Ibnu Umar. Menurutnya hadits ini shahih menurut kriteria Al-Bukhari dan Muslim. Hal yangsama dilansir dan dinyatakan Al-Baihaqi di dalam Syu'ah Al-Iman. Sementara itu As-Syuyuti dalam Al-Jami' Al-Saghir menyatakannya sebagai dha'if.

resume of "Manajemen Diri Muslimah bagian 2"  -  Dr.Akram Ridha


Rabu, 12 Desember 2012

Ya Allah, Aku Jatuh Cinta


Ya Allah, aku jatuh cinta…


Pada mereka yang tak letih memikirkan umat. Tak pernah berada dalam keluangan waktu karena siang mereka adalah perjuangan dan malamnya perenungan. Hujatan dan cercaan menerpa, tapi senyum ketulusan tetap terkembang.

Aku jatuh cinta pada pengorbanan yang mereka berikan…Ketenangan yang bukan berarti diam, tapi proses berfikir matang untuk tegaknya dienMu.
Aku jatuh cinta pada pancaran bashirah mereka, yang bukan hanya karena hasil kecerdasan otak tapi karena dekatnya hati mereka kepadaMu

Ya Allah, aku jatuh cinta…
Pada mereka yang senantiasa menjadikan Engkau sebagai tujuan hidupnya. Bersedia menggadaikan apapun, berkorban segalanya hanya untuk menambah berat timbangan kebaikan ketika nanti di yaumul hisab.
Mereka yang tidak pernah khawatir terhadap hari esok karena qana’ah bahwa Engkau telah menjamin hidup orang yang berjuang di jalanNya.
Mereka yang mengabdikan dirinya untuk terus mendidik dan mendorong tumbuhnya jundi-jundi Islam penguat barisan da’wah.
Mereka yang penuh ketulusan membentuk, mengarahkan dan memberdayakan kami agar bisa terus berkontribusi dalam setiap amalan produktif

Ya Allah, aku jatuh cinta…
Pada mereka yang selalu berpeluh menghabiskan waktu mudanya dalam menyusun gerakan. Yang menjadikan syuro sebagai basis kekuatan dalam koordinasi. Aku jatuh cinta, pada ketulusan mereka untuk mengorbankan ambisi pribadi, waktu, umur, dan hidup hanya karena tugas mulia yang berat dan tidak berbalas segera.
Aku jatuh cinta karena kerendahan hati mereka yang tidak silau dengan atribut dunia.
Aku jatuh cinta pada semangat dan idealisme mereka, yang tidak larut dalam realitas tapi berusaha menyetir kenyataan sesuai dengan landasan yang Kau ajarkan

Ya Allah, aku jatuh cinta…
Pada semangat dan binar mata mereka. Yang tidak pernah pudar ketika ditunjukkan kebesaran kuasaMu. Yang binarnya berubah menjadi sendu ketika mengingat betapa keras siksamu.
Aku jatuh cinta pada tekad kuat dan sifat pembelajar yang mereka miliki. Keterbatasan fisik dan harta, tak membuat mereka melemparkan 1001 alasan ketidakhadiran.
Aku jatuh cinta pada kepolosan celoteh pertanyaan mereka. Bukan pertanyaan bernada pembenaran tapi pencarian kebenaran agar mereka bisa terus memperbaiki diri

Ya Allah, aku jatuh cinta…
Pada jalan yang telah Kau pertemukan aku dengan mereka. Sebuah jalan panjang yang tidak pernah mulus tapi berliku dan penuh duri.
Aku jatuh cinta pada limpahan nikmat yang Engkau berikan hanya pada mereka yang berada di jalan ini.
Aku jatuh cinta ketika kudapati mereka sebagai pemimpinku, pendidikku, teman seperjuanganku, dan binaanku yang selalu merangkul ku dengan penuh cinta. Aku begitu jatuh cinta pada jalan ini…dan semakin jatuh cinta ketika aku menyadari bahwa dengan keikhlasan, jalan ini dapat meringankan perhitungan dosaku di hari akhir nanti. Insya Allah…Amiin ya rabbal ‘aalamiin.


YA ALLAH... AKU JATUH CINTA

Ya Allah...
Aku telah jatuh cinta pada keagungan qadaMU
pada kemanisan qadarMU
pada kecantikan nur wajahMU
pada keluasan ampunanMU

Ya Allah...
Aku telah benamkan diri dalam kefanaan
sedang Engkaulah yang meneguhkan niatku dengan syariatMU
sedang Engkaulah yang menanamkan keyakinanku dengan hakikatMU
sedang Engkaulah yang menyampaikan tujuanku dengan ma'rifatMU

Ya Allah...
Kau telah penuhi hatiku dengan cintaMU
Kau telah basahi lisanku dengan dzikirMU
Kau telah tunjukkan sinar langkahku dengan thareqatMU

Duhai...
Bila saatnya tiba
Sang kekasih hanya dapat merindukan perjumpaan

Duhai...
Dimanakah tempat bila KAU tidak berada disisiku ?
Dimanakah langkah bila KAU tidak dalam pijakanku ?

Allah... Allah... Allah
Bila hatiku terlalu gelap dengan kema'siatan
Dalam kejaran bisikan syetan
Kumohon kau bukakan hijabMU
Celupkan diriku dalam lautan pintu taubatMU

Allah... Allah... Allah
Engkaulah yang Maha Hidup
Engkaulah yang Maha Abadi
Hidupkanlah hatiku yang mati
Suburkan padanya dengan mahabbahMU
Dalam keabadian cintaMU

Tujuh Golongan yang Dinaungi Allah di Hari Kiamat


قَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ، فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ، الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ، اجْتَمَعَا عَلَيْهِ، وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ، وَجَمَالٍ، فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى، حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا، فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ.
(صحيح البخاري)
Sabda Rasulullah saw : “Tujuh Golongan yg dinaungi Allah dihari kiamat yg tiada tempat berteduh selain yg diizinkan Nya swt, Pemimpin yg Adil, dan pemuda yg tumbuh dengan beribadah pd Tuhannya, dan orang yg mencintai masjid masjid, dan dua orang yg saling menyayangi karena Allah, bersatu karena Allah dan berpisah karena Allah, dan orang yg diajak berbuat hina oleh wanita cantik dan kaya namun ia berkata : Aku Takut pd Allah, dan pria yg sedekah dg sembunyi2, dan orang yg ketika mengingat Allah dalam kesendirian berlinang airmatanya” (Shahih Bukhari)





1. Pemimpin yang adil

Adil tidak selalu berarti sama. Adil ialah menempatkan segala sesuatu sesuai dengan kadarnya. Seorang pemimpin bisa menjadi sangat mulia, tapi juga bisa menjadi sangat hina. Pemimpin bisa jadi orang yang paling pertama masuk surga, tapi juga bisa jadi orang pertama yang masuk neraka.

2. Pemuda yang rajin beribadah

Pemuda yang rajin chatting, banyak. Pemuda yang rajin pacaran, banyak juga. Pemuda yang rajin belajar, ada tapi tidak terlalu banyak. Tapi pemuda yang rajin ibadah, relatif sedikit. Apalagi yang ibadahnya tidak sekedar ritual, tapi juga ibadah sosial.

3. Orang yang hatinya terpaut dengan masjid

Golongan ini ialah yang orang yang selalu merasa ingin berada di masjid. Kemanapun pergi, yang selalu ia cari adalah masjid dan ia merasa tenang berada di dalamnya.

4. Orang-orang yang saling berkumpul dan berpisah karena Allah

Dalam Riwayat Tirmidzi ada hadits, “Allah berkata, ‘Orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku akan mendapatkan mimbar-mimbar dari cahaya dan didoakan oleh para nabi dan orang-orang yang mati syahid’.”
Dalam konteks ini, yang dimaksud dengan yang saling berkumpul karena Allah ialah mereka yang pernah berselisih dan berpisah lalu berkumpul kembali karena Allah. Sedangkan yang berpisah karena Allah ialah ketika mereka merasa bahwa saling berpisah akan lebih mendekatkan diri kepada Allah, dari pada tetap berkumpul namun mengarah pada hal yang tidak Allah sukai.

5. Orang yang diajak melakukan maksiat, namun menolak karena takut pada Allah

Seperti kasusnya Nabi Yusuf a.s. ketika diajak melakukan maksiat oleh Zulaikha. Seperti juga yang dialami Sayyid Sabiq ketika digoda oleh wanita. Mereka menolak untuk melakukan maksiat karena takut akan azab Allah.

6. Orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi

Orang yang bersedekah namun tidak membiarkan orang lain mengetahui. Ia juga menjaga perasaan orang yang ia beri sedekah dengan tidak mengumbar-ngumbarnya.

7. Orang yang bangun di malam hari ketika orang lain tertidur, lalu beribadah kepada Allah

Ketika orang lain tertidur, ia justru terbangun untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sebuah pengorbanan yang di hari akhir dibalas oleh Allah dengan naungan darinya.


Sumber :
http://yasirmuzayan.wordpress.com/tag/tujuh-golongan-yang-dinaungi-allah/
http://kharismaarby.blogspot.com/2012/12/tujuh-golongan-yang-dinaungi-allah-di.html

Minggu, 09 Desember 2012

Aku

Satu hal yang mungkin aku anggap baik dari diriku, tidak merasa lebih baik orang lain. Aku merasa seperti orang munafik, tapi mungkin tidak demikian saat aku mencoba untuk terus memperbaiki diri dan juga orang-orang disekitarku yang sangat aku sayangi. Aku merasa masih sangat bodoh dalam banyak hal. Namun sikap rendah hati ini seringkali berlebihan, sehingga membuatku menjadi rendah diri.

Entahlah, tapi aku tak pernah merasa lebih baik dari siapapun. Meskipun kini aku coba dengan memperbaiki hijabku dulu, kemudian aku mencoba memperbaiki sikapku dan juga kepedulianku pada orang lain.
Barangkali aku telah lama mengenal siapa diriku, terkadang aku merasa sangat takut untuk berbicara dan bersikap, takut yang aku lakukan adalah tindakan bodoh yang bisa jadi akan menenggelamkan diriku sendiri. Seringkali aku berkonsultasi pada orang lain, terlebih pada ayahku. Sikap bagaimana yang seharusnya aku ambil. Tapi aku keras kepala, bertindak apa yang menurutku benar meski itu aku ambil dari nasehat banyak orang.

Ah, sudahlah.  tulisan diatas hanya kebingunganku saja. Ada banyak hal buruk tentang diriku, dan aku sangat takut akan hal itu.  Sangat. Aku hanya manusia yang penuh kehinaan, banyak berlumuran dosa, dan sebagainya. Aku menyadari apa yang salah tentang diriku, tapi aku tak sanggup untuk memperbaikinya. Banyak sekali kesalahan tentang diriku. Mungkin aku terlalu hina, hingga Allah . . . tak sanggup aku melanjutkannya. Ada banyak hal yang tak mungkin aku ceritakan pada orang lain, dan itu hanya akan menjadi rahasiaku dengan Tuhan.

Di lingkungan baruku ini, aku bertemu banyak sekali orang yang wataknya belum pernah aku temui sebelumnya. Aku merasa bahwa diriku jauh lebih tidak baik dari mereka. Namun aku ingin mengejar ketertinggalanku itu. Hanya saja ada satu hal yang begitu mengganggu pikiranku. namun setelah aku menemui jawabannya, tak juga melegakanku dari beban ini. Lahaula wala quwwata illa billah... aku tak berdaya lagi bagaimana mengatasinya. dan masalah ini tetap menjadi rahasiaku bersama Allah.

Aku hanya manusia lemah yang tak sanggup memimpin diri, bagaimana aku mempertanggungjawabkannya kelak. Aku hanya manusia bodoh, yang tak sanggup mengambil sikap meski kebenaran ada di depan mata. Aku hanya manusia hina berlumur kotoran dosa, yang entah bagaimana aku menyucikannya kembali. Bahkan aku tidak lebih baik dari Anda yang sedang membaca tulisan ini.

RUHUL ISTIJABAH

Secara bahasa ruhul berarti ruh atau jiwa, dan istijabah berarti menjawab panggilan, sehingga Ruhul Istijabah bisa memiliki makna jiwa yang menjawab panggilan. Jiwa yang bersemangat menyambut panggilan da’wah menunjukkan adanya keseriusan (jiddiyah) karena keseriusan adalah salah satu ciri kader militan. Keimanan seseorang belum sempurna kecuali apabila mendengar panggilan Allah dan Rasul-Nya segera menyambut panggilan tersebut dengan senang hati dan penuh semangat, Al-Qur’an mengingatkan kita tentang hal itu “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasai antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan”. (Q.S. AI-Anfal :24 ).
Para sahabat Rasul di saat menjelang perang Badar, ketika Rasul ingin mengetahui kesiapan mereka untuk perang menghadapi musyrikin Quraisy, mengingat tujuan awal mereka bukan untuk perang tetapi untuk menghadang kafilah dagang yang dipimpin oleh Abu Sufyan, namun kafilah itu berhasil meloloskan diri dari hadangan kaum muslimin, maka Rasul bermusyawarah dengan mereka tentang apa harus dilakukan.  Saat itu Miqdad bin Amr khawatir kalau ada di antara kaum Muslimin yang masih berfikir seribu kali untuk melakukan peperangan. Karena itu sebelum angkat bicara, Miqdad ingin mendahului mereka, agar dengan kata-katanya yang tegas dapat mengobarkan semangat juang dan bisa menjadi pendapat umum.
Tapi sebelum ia menggerakkan kedua bibirnya, Abu Bakar Ash Shidiq sudah mulai bicara. Apa yang dikemukakan Abu Bakar sangat baik, Miqdad pun tenang. Kemudian Umar angkat bicara. Pendapatnya juga baik.
Setelah itu barulah Miqdad angkat bicara : “Wahai Rasulullah, jangan ragu! Laksanakanlah apa yang telah diberitahukan Allah kepadamu, kami tetap bersamamu. Demi Allah kami tidak akan mengatakan kepadamu seperti apa yang dikatakan Bani Israel kepada Nabi Musa, yaitu “Pergilah kamu bersama Rabbmu dan berperanglah, kami tetap duduk di sini”. Tetapi kami akan mengatakan kepadamu, “Pergilah kamu ber-sama Rabbmu dan berperanglah, kami ikut berperang bersamamu”. Demi Allah Yang Mengutusmu membawa kebenaran, seandainya engkau mengajak kami menerjuni lautan lumpur, kami akan patuh. Kami berjuang bersamamu dengan gagah berani hingga mencapai tujuan, dan kami akan bertempur di sebelah kanan dan kirimu, dibagian depan dan belakangmu, sampai Allah memberimu kemenangan.
 Setelah sahabat Muhajirin, sahabat Anshar yang diwakili oleh Sa’ad bin Mu’adz menyampaikan sikapnya: ”Ya Rasulullah, kami telah beriman kepadamu dan kami bersaksi bahwa apa yang kamu bawa adalah benar, atas dasar itu kami telah menyatakan janji untuk senantiasa taat dan setia kepadamu. Wahai Rasulullah lakukanlah apa yang kau kehendaki, kami tetap bersamamu.Tidak ada seorangpun diantara kami yang mundur dan kami tidak akan bersedih jika kamu menghadapkan kami dengan musuh esok hari. Kami akan tabah menghadapi peperangan dan tidak akan melarikan diri. Semoga Allah akan memperlihatkan kepada kamu apa yang sangat kamu inginkan dari kami. Marilah kita berangkat Ilahi.
Dalam riwayat lain, bahwa Saad bin Muadz berkata kepada Rasulullah, “Barang kali kamu khawatir jika kaum Anshar memandang bahwa mereka wajib menolongmu hanya di negeri mereka. Saya sebagai wakil kaum Anshar menyatakan, jalankan apa yang kau kehendaki, jalinlah persaudaraan dengan siapa saja yang kau kehendaki dan putuskanlah tali persaudaraan dengan siapa saja yang kau kehendaki. Ambillah harta benda kami sebanyak yang kau perlukan dan tinggalkanlah untuk kami seberapa saja yang kamu sukai, apa saja yang kau ambil dari kami itu tebih kami sukai daripada yang anda tinggalkan. Apapun yang kamu perintahkan maka kami akan mengikutinya, demi Allah jika kamu berangkat sampai ke Barkul Ghimad kami akan berangkat bersamamu, demi Allah seandainya kamu menghadapkan kami pada lautan kemudian kamu terjun ke dalamnya maka kamipun akan terjun ke dalamnya bersamamu. (Rakhikul Makhtum 285-286 ).
Hasan AI-Banna berkata da’wah pada tahap pembinaan (takwin) shufi disisi ruhiyah dan askari (kedisiplinan) dari sisi amaliyah (operasional), slogannya adalah amrun wa thoatun (perintah dan laksanakan ) tanpa ada rasa bimbang, ragu, komentar, dan rasa berat’. (Risalah Pergerakan 2).
Empat Aspek Ruhul Istijabah
1.   Istijabah Fikriyah (Menyambut dengan pikiran /dengan sadar).
Kader da’wah ketika mendapat tugas dari Murobbi, Pembina, maupun Qiyadah tidak hanya sekadar melaksanakan perintah dan tugas, tetapi ia sadar betul apa yang dikerjakannya adalah dalam rangka taat kepada Allah dan meraih ridho-Nya, bila dilakukan mendapat pahala dan bila tidak dilakukan dosa.
Karena itu para kader da’wah harus memahami, bahwa melaksanakan perintah dan tugas yang datang dari Murobbi, Pembina atau Qiyadah dalam rangka taat kepada Allah. karena Allah telah mewajibkan taat kepada pemimpin : “Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul serta (taatilah) pemimpin kamu… ” (An-Nisaa:59).
Demi laksananya tugas secara maksimal maka seorang kader selalu memikirkan tentang bagaimana cara melaksanakan tugas dengan baik, maka ia harus memperhatikan waktu, cara dan sarana yang tepat sehingga pekerjaan dapat diselesaikan sesuai perintah, rencana, tujuan serta sasaran yang telah ditetapkan.
Bahkan harus memiliki kemampuan memberikan saran, pendapat dan pandangannya demi terselenggaranya program dengan baik, seperti yang dilakukan oleh sahabat Habab bin AI Mundzir ketika mengusulkan tempat yang strategis untuk posisi pasukan kaum muslimin pada perang Badar.
Habab berkata, ”Wahai Rasulullah, apakah dalam memilih tempat ini anda menerima wahyu dari Allah sehingga tidak dapat diubah lagi, ataukah strategi perang? Tempat ini kupilih berdasarkan strategi perang”. Kemudian Habab berujar kembali, “Wahai Rasulullah tempat ini tidaklah strategis. Ajaklah pasukan pindah ke tempat air yang terdekat dengan musuh. Kita membuat markas di sana dan menutup sumur-sumur yang ada di belakangnya, kemudian kita buat kubangan dan kita isi dengan air hingga penuh. Dengan demikian kita berperang dalam keadaan mempunyai persediaan air minum”. Rasulullah menjawab, “Pendapatmu sungguh baik”.
Begitu pula, pada saat pasukan koalisi, yang terdiri dari kaum Musyrikin, bangsa Yahudi dan orang-orang Munafik menyerang Madinah, Sahabat Salman Al-Farisi menyampaikan usulannya kepada Rasulullah yaitu menggali parit di sekeliling Mmadinah, kemudian Rasulullah menerima usulan tersebut dan menjadi strategi perang yang ditetapkannya sehingga perang itu diberi nama dengan perang Khandak (parit).
Pada perang Qodisiah, perang antara tentara pasukan Persia, yang terjadi di Irak pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, Qoqo bin Amr terus berpikir untuk menaklukkan pasukan bergajah yang menjadi andalan pasukan Persia. Sampai akhirnya Qoqo mendapatkan sebuah ide, untuk membuat patung gajah, agar kuda-kuda milik kaum Muslimin terbiasa melihat gajah sehingga ketika kuda-kuda itu berhadapan dengan gajah-gajah yang sebenarnya, tidak takut menghadapinya. Ternyata ide Qoqo ini menghasilkan buah. Pada perang Qodisiah tentara kaum Muslimin berhasil menaklukan tentara Persia yang mengandalkan pasukan bergajahnya. Khalifah Umar bin khattab pernah berucap, “Tidak akan terkalahkan kaum muslimin selama di sana ada Qoqo bin Amr”.
Dalam surat Ar-Ra’d ayat 19 Allah mengingatkan kita akan keistimewaan orang-orang mengoptimalkan akal pikirannya: “Apakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb¬mu itu benar, sama dengan orang yang buta (tidak menggunakan akal pikirannya). Hanya orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran”.

2. Istijabah Nafsiyah (Menyambut dengan perasaan/emosi).
Para aktivis dan kader da’wah bila mendapat perintah dan tugas, baik tarbawi, da’awi maupun tanzhimi harus menyambutnya dengan perasaan senang, gembira, bahagia dan bersemangat untuk melaksanakannya. Janganlah perintah dan tugas itu disambut dengan rasa berat, malas, enggan dan tidak bergairah. Apapun kondisi yang terjadi pada diri kita, baik dalam keadaan susah, berat maupun kekuatan ma’nawiyah tidak mendukung, apalagi dalam keadaan bergembira.
Bila datang panggilan da’wah kita tidak boleh menolaknya atau merasa enggan dan malas memenuhinya. Allah berfirman: ”Berangkatlah kamu dalam keadaan merasa ringgan ataupun ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah, yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”(Q.S. At-Taubah :41).
Kemudian pada ayat yang lain Allah menjelaskan, ”Hai orang-orang yang beriman apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu ‘Berangkatlah untuk berperang di jalan Allah’,  kamu merasa berat dan ingin di tempatmu. Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia itu dibandingkan dengan kehidupan di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu “. (Q.S. At-Taubah:38-39).
Para kader yang dibina oleh Rasulullah ketika mendengar panggilan jihad mereka berlomba-lomba untuk memenuhinya dengan harapan mendapat kesempatan mati syahid di jalan Allah. Kelemahan fisik tidak menjadi alasan untuk tidak berangkat memenuhi panggilan jihad, bahkan bila mereka tidak dapat memenuhi panggilan jihad karena udzur, mereka menangis. “Dan tidak berdosa atas orang-orang yang apabila datang kepadamu sepaya kamu memberi mereka kendaraan. Lalu kamu berkata : ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu’. Lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan”. (At-Taubah: 92).
Mereka begitu semangat dalam melaksanakan perintah da’wah, perintah tersebut dikerjakan dengan suka cita, riang, gembira serta bahagia, bila mereka dapat melakukannya dengan baik. Sebaliknya, mereka bersedih dan berduka cita bila tidak dapat menjalankan perintah walaupun disebabkan udzur.

3. Istijabah Maaliyah (Menyambut dengan harta).
Da’wah untuk menegakkan dinul Islam muka bumi adalah kerja besar bahkan tidak ada pekerjaan yang Iebih besar darinya. Kerja besar ini membutuhkan dana yang besar pula sebagaimana lazimnya proyek besar. Dalam proyek da’wah pendanaan ditanggung oleh para da’i sendiri.
Berkorban dengan harta dan jiwa sudah menjadi satu paket yang tidak boleh dipisahkan satu dari yang lainnya. Seperti apa yang Allah rmpaikan dalam Qur’an, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang yang beriman, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka… ” (At-Taubah : 111).
Kemudian ayat lain Allah menjelaskan, “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? Yaitu, kamu beriman pada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya. ” (As-Shaff : 10- 11).
Kader da’wah tidak pelit dengan hartanya untuk pembiayaan berbagai kegiatan da’wah dalam da’wah para kader dan aktivis siap mengorbankan hartanya, jangan mengharapkan keuntungan materi serta harta benda dari da’wah. Khadijah isteri Rasulullah telah memberikan seluruh kekayaannya untuk kepentingan da’wah. Pada perang tabuk kaum muslimin berlomba-lomba menginfakkan hartanya dan bersodaqah.
Usman bin Affan sebelumnya telah menyiapkan kafilah dagang yang akan berangkat ke Syam berupa dua ratus onta lengkap dengan pelana serta barang-barang yang berada di atasnya, beserta dua ratus uqiyyah. Setelah mendengar pengumuman Rasulullah, Usman datang pada Rasul kemudian menshadaqahkan semua itu. Kemudian Usman menambah lagi seratus onta dengan pelana dan perlengkapannya. Kemudian beliau datang lagi membawa seribu dinar diletakkan di pangkuan Rasulullah. Rasulullah memperhatikan apa yang dishadaqahkan oleh Usman itu seraya berkata: “Apa yang diperbuat oleh Usman setelah ini, tidak akan membahayakannya”. Usman terus bershadaqah hingga jumlahnya mencapai sembilan ratus ekor onta dan seratus ekor kuda, belum termasuk uang.
Setelah Usman selesai memberikan shadaqah, giliran Abdur Rahman bin Auf datang membawa Dua ratus uqiyyah perak, tak lama setelah Abdur Rahman, datanglah Abu Bakar dengan membawa seluruh hartanya yang jumlahnya Empat ribu dirham, sampai-sampai beliau tidak menyisakan hartanya untuk keluarganya kecuali Allah dan Rasulnya. Kemudian shahabat-shahabat yang lain berdatangan. Umar menyerahkan setengah hartanya. Al-Abbas datang menyerahkan hartanya yang cukup banyak. Thalhah, Sa’ad bin Ubadah, Muhammad bin Maslamah semuanya datang menyerahkan shadaqahnya. Tidak ketinggalan Ashim bin Adi datang menyerahkan sembilan puluh wasaq kurma. Kemudian diikuti sahabat yang lain mulai dari yang sedikit sampai yang banyak. Sampai ada di antara mereka yang berinfaq dengan segenggam atau dua genggam kurma, karena hanya itu yang mereka mampu lakukan. Kaum wanitapun menyerahkan berrbagai perhiasan yang yang mereka miliki, seperti gelang tangan, gelang kaki, anting-anting dan cincin. Tidak ada seorangpun yang kikir menahan hartanya kecuali orang-orang Munafq.
Allah berfirman : “Orang-orang Munafiq yang mencela orang-orang Mu’min yang memberi shadaqah dengan sukarela, dan merekapunv menghina orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dishadaqahkan sekedar kesanggupannya”. (At -Taubah :79)

4. Istijobah Harakiyah (Menyambut dengan aktivitas)
Aktivis da’wah adalah yang orang aktif dalam kegiatan da’wah, selalu hadir dalam kegiatan da’wah dan berusaha untuk berada di barisan orang-orang mengutamakan kerja daripada berbicara. Bahkan berupaya untuk berada di garda terdepan dalam mempertahankan dan membela Islam.
Perlu diingat, tugas da’wah yang diemban aktivis sangat banyak., lebih banyak dari waktu yang tersedia. Tugas antara lain, pertama: Kewajiban dalam Tarbiyah, tujuannya, agar kualitas dan dan mutu kader semakin baik. Kedua: Kewajiban dalam Da’wah, tujuannya, agar penyebaran da’wah semakin luas. Ketiga: Kewajiban yang sifatnya tanzhimiyah, bertujuan, agar amal jama’i stuktural semakin kokoh.
Bila kita pelajari siroh Nabawiyah dan siroh As-Salaf As-Shalih, kita bisa lihat, pola kehidupan mereka. Mereka lebih banyak bekerja untuk umat dibanding untuk diri dan keluarga mereka karena kesibukan yang begitu padat hampir tidak ada waktu untuk istirahat, bahkan tidak menyempatkan diri untuk istirahat. Para sahabat Rasul tidak pernah berhenti berjihad di jalan Allah, sebagian ahli sejarah mencatat sebanyak seratus kali peperangan selama sepuluh tahun Rasul di Madinah, baik yang dipimpin langsung oleh Rasul dan yang dipimpin oleh sahabatnya. Baik itu pertempuran besar maupun yangkecil, baik yang jadi maupun tidak jadi perang. Sehingga jika diambil rata, peperangan terjadi sebulan sekali, artinya mobilitas jihad sangat tinggi.
Begitu pula di masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq. Peperangan dilakukan selama dua tahun tiga bulan sepuluh hari, belum lagi peperangan yang dipimpin oleh Khalid bin Walid yang jumlahnya sebanyak dua puluh kali peperangan yang dilakukan terus menerus secara berkesinambungan.
Melihat kondisi saat ini, dimana tuntutan da’wah begitu besar, yang disertai ancaman global, tentu hal ini, menuntut kesungguhan, keseriusan serta mobilitas da’wah dan jihad yang tinggi, jika tidak maka kekuatan batil yang akan berkuasa di bumi ini. Dalam hal ini, Allah berfirman, “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan, ikutilah agama orang tua Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan begitu pula dalam al-Qur’an ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung”. (AI-Hajj :76 ).