Rabu, 17 Juli 2013

Panggilan Lain dari Masjid di Kota Kecilku

Bismillahirrahmanirrahim
Aku teringat pada keinginanku beberapa bulan lalu, bulan-bulan sebelum Ramadhan. Hal-hal yang ingin kulakukan selama Ramadhan, kukatakan pada diriku bahwa aku hanya ingin fokus pada Al Qur'an dan hanya pada Al Qur'an. Aku tidak ingin kecolongan lagi seperti Ramadhan-Ramadhan sebelumnya.
Kutekadkan kembali bahwa Ramadhan kali ini aku ingin membatasi kegiatan-kegiatanku di masjid. Aku tidak ingin ikut kepanitiaan Ramadhan agar bisa fokus pada Al Qur'an!

Namun pada kenyataannya aku tetap tak bisa meninggalkan kegiatan di masjid, ada panggilan jiwa yang tak bisa ku abaikan. Ketika kukatakan pada diriku, 'biarkan sajalah kegiatan itu mau berlangsung bagaimana, aku tidak peduli, teman-teman sekarang juga sudah belajar dari Ramadhan tahun lalu'
Ah, jahatnya aku. Bukankah kegiatan di masjid juga merupakan ladang amal yang senantiasa subur ketika kita bisa menyiraminya dan merawatnya dengan baik dan penuh keikhlasan.
Saat kucek kembali persiapan apa yang sedang dilakukan teman-teman seperjuangan di masjid, ternyata belum terbentuk kepanitiaan dengan alasan ingin rehat kegiatan untuk Ramadhan kali ini. Sedikit kaget mendengarnya, 1 bulan sebelum Ramadhan, dan belum terbentuk kepanitiaan. tapi nampaknya hanya 1-2 orang yang tahu alasan ini. Ku kompori lagi teman-teman yang lain, sudah sejauh mana persiapan kita? Jangan sampai agenda tahunan ini terhenti.
Hingga akhirnya semangat teman-teman tergugah, kusampaikan ini pada Pak Ketua, dan disetujui.

Agenda pertama Dugderan & Ngontel Bareng KARISMA Kendal, Senin 8 Juli 2013.
Aku sedikit acuh pada agenda ini, karna sedang menghindari keramaian musik dugderan, namun bagaimanapun juga ini tetap bagian dari agenda kami.
H-4 pendaftar baru berkisar 40 orang, panik. Mungkin bagi teman-teman sangat berlebihan ketika kuceritakan bahwa aku tidak bisa tidur memikirkan kegiatan ini. Setelah sebelumnya kudesain brosur sesederhana mungkin, keesokan harinya kusebarkan brosur tersebut ke perkampungan di dekat rumah.
H-3 tidak banyak perubahan pada jumlah pendaftar. tapi aku sudah begitu lelah karena berkeliling ke kampung-kampung.
H-2 ku sebar lagi brosur-brosur yang tersisa ke perkampungan yang lain.
H-1 80an pendaftar, sudah lumayan lah.
hari H, membludak hingga 206 pendaftar. Subhanallah.. Alhamdulillah.
namun ada banyak hal mengganjalkan hati pada kegiatan ini. Terutama pada ketidak konsistenan dan ketidak tegasan beberapa pihak berpengaruh. Bagaimana bisa, keputusan bersama ketika rapat diubah begitu saja secara sepihak pada hari H.
Kemudian dalam masalah pengamanan lalu lintas, saya rasa sudah menjadi tugas para polisi untuk membantu mengamankan lalu lintas pada rute dugderan ini, mereka sudah dibayar oleh negara melalui pajak masyarakat untuk membantu masyarakat. Memberikan snack makanan pun sudah termasuk harta Ghulul dan tentu dalam Islam tidak diperkenankan, tapi kali ini diberikan uang juga. Subhanallah, mereka sudah dibayar negara, kenapa dibayar lagi atas pekerjaan yang sudah semestinya dilakukan?

Sudahlah, acara sudah berlalu.
Semoga mampu menjadi bahan evaluasi dan belajar teman-teman semuanya.

Agenda kedua KIIR (Kajian Islam Intensif Ramadhan)
Hari ini adalah hari pembukaan KIIR, peserta yang sebelumnya hanya berkisar 32 orang, kini menjadi sekitar 60an orang pendaftar. Alhamdulillah..
Setelah haus begitu mencekat di tengah-tengah hari puasa, berkeliling ke sekolah-sekolah, akhirnya pendaftar mulai berdatangan pada hari H.
Persiapan sudah matang, hanya saja aku yang juga bertugas untuk mengkonsep acara, begitu otodidak saat itu juga, tak ada persiapan khusus. Hanya film-film bernuansa Islami yang kupersiapkan, kupertontonkan saja pada para peserta, dan menjadi bahan materiku saat itu, tak ada persiapan, seperti ngobrol saja dengan adikku di rumah ketika aku menceramahinya. Anak-anak kecil jauh lebih fokus ketika diberi film, itulah siasatku menghadapi anak-anak dengan jumlah yang cukup banyak dan suka ngobrol sendiri dengan teman-temannya.
Alhamdulillah.. semoga membekas di hati adik-adik peserta KIIR meskipun ilmuku begitu terbatas, dengan kata-kata yang spontan saja kusampaikan dengan sedikit terbata-bata.
Ketika aku memotivasi orang lain, saat itu juga aku memotivasi diriku. Aku belajar banyak hal pada hari ini. Alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah, terimakasih pada teman-teman seperjuangan di KARISMA Kendal, kita berkumpul membentuk shaf fisabilillah. Jangan pernah menyerah, ketika ada kesempatan belajar, maka ambillah. Kita sama-sama datang dari nol di tempat ini, tapi kita mendapatkan banyak hal pada akhirnya.

Minggu, 12 Mei 2013

ABDULLAH BIN AMR BIN ASH

Bismillahirrahmanirrahim.
Sejak ia masuk Islam dan bersumpah setia kepada Rasulullah, bersamaan dengan hatinya yang mulai bercahaya bagai pagi hari oleh cahaya Allah dan cahaya ketaatannya, sejak saat itu ia fokus pada Al-Qur'an yang turun secara bertahap. Setiap ayat yang turun langsung dihafalnya. Sehingga setelah al-Qur'an turun dengan sempurna ia telah hafal semuanya.

Apabila pasukan Islam berangkat ke medan laga untuk menghadapi orang-orang kafir yang memerangi Islam, kita akan menjumpainya berada di barisan terdepan, berharap mendapatkan kesyahidan. Ia benar-benar ingin mati sebagai syahid.
Jika peperangan telah usai, dimana kita akan menemuinya?
Di masjid atau mushala rumahnya. Siang hari berpuasa dan malam hari dipergunakan untuk qiyamullail. Untuk mengetahui betapa tingginya tingkat ibadah Abdullah, kita bisa melihat sikap Rasulullah yang terpaksa ikut campur dalam urusan ini agar Abdullah tidak berlebihan dalam beribadah. Rasulullah juga berpesan kepada agar mematuhi ayahnya (Amr bin Ash).

Waktu terus berjalan. Mu'awiyah menolak kekhalifahan Ali. Ali tidak akan membiarkan pembangkangan dilakukan tidak pada tempatnya. Perang pun berkecamuk dengan sengitnya. Ketika Amr hendak berangkat ke Shiffin untuk berperang, ia memanggil Abdullah anaknya, "Bersiaplah untuk berangkat. Kamu akan ikut berperang di pihak kami (Mu'awiyah)"
"Itu tidak mungkin! Rasulullah telah berpesan kepadaku agar tidak membunuh sesama muslim."
Amr terus berusaha meyakinkan putranya, "Masih ingatkah kamu akan pesan Rasulullah.. . Rasul perpesan 'Taatilah ayahmu'. ."
Abdullah berangkat demi ketaatannya kepada sang ayah. Ia bertekad untuk tidak menghunus senjata.

Beberapa saat setelah pertempuran dimulai, terjadilah peristiwa yang menjadikan Abdullah bin Amr mengambil sikap tegas dan menentang pertempuran itu.
Ceritanya, 'Ammar bin Yasir berada di pihak Ali. Rasulullah telah mengabarkan tentang kematian 'Ammar bahwa ia akan dibunuh oleh kelompok pembangkang. Beberapa dari kelompok Mu'awiyah bersepakat untuk membunuhnya, mereka membidikkan anak panah mereka dan berhasil menghantarkan 'Ammar ke dunia para syuhada. Berita terbunuhnya 'Ammar tersebar dengan sangat cepat.

Abdullah berkeliling di antara pasukan Mu'awiyah dan menyatakan bahwa mereka adalah para pembangkang karena telah membunuh 'Ammar.

Mu'awiyah merasakan bahwa desas desus itu akan mengacu pembangkangan terhadapan dirinya, sehingga ia memikirkan suatu muslihat. Ia menyatakan bahwa yang membunuh 'Ammar bin Yasir tidak lain adalah orang yang mengajaknya untuk ikut berperang. Penjelasan Mu'awiyah langsung diterima oleh pengikutnya tanpa logika, maka pertempuran pun kembali dimulai.

Sedangkan Abdullah bin Amr kembali ke masjid dan ibadahnya. Akan tetapi keterlibatannya dalam perang Shiffin selalu membuatnya gundah.

Ketika usianya mencapai 72 tahun. Saat ia sedang berada di mushala rumahnya, beribadah, berdzikir, memuji Tuhannya, ia dipanggil untuk melakukan perjalanan abadi. "Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai. Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku"

'AMMAR BIN YASIR

Bismillahirrahmanirrahim..
Seandainya ada orang-orang yang dilahirkan di surga, tumbuh dan menjadi dewasa di taman surga, kemudian dibawa ke dunia untuk menjadi hiasan dan cahaya penerang, maka 'Ammar, ibunya (Sumayyah) dan ayahnya (Yasir) termasuk di antara mereka.
Mengapa kita katakan "seandainya", seolah-olah pengandaian belaka, padahal keluarga Yasir benar-benar penduduk surga.
Ketika Rasulullah bersabda, "Sabarlah, wahai keluarga Yasir. Tempat yang dijanjikan bagi kalian adalah surga.", beliau tidak hanya sedang menghibur mereka, tetapi mempertegas apa yang beliau ketahui.
Keteguhan Sumayyah dalam menghadapi berbagai siksaan menjadikanya "ibu" bagi seluruh kaum muslimin sepanjang masa. Ialah syuhada pertama.

Setelah kaum muslimin menetap di Madinah. Rasulullah dan para sahabat bergotong royong membangun masjid Nabawi. Rasulullah, yang hatinya penuh rahmat melihat kiprah 'Ammar. Beliau mendekatinya. Setelah beberapa saat menatap wajahnya, beliau bereru dihadapan para sahabat, "Inilah putra Sumayyah. Dia akan tewas di tangan pemberontak."

Pemberontakan dan pertikaian pun terjadi pada masa khalifah Ali, dan berita tewasnya 'Ammar segera tersebar. Orang-orang pun tahu siapa yang menjadi kelompok pemberontak saat itu, tidak lain adalah kelompok Mu'awiyah.

Beberapa saat yang lalu, 'Ammar berdendang gembira di hadapan mereka di tengah medan perang,
"Hari ini aku akan berjumpa dengan para kekasih tercinta, dengan Muhammad dan sahabatnya."

Surga telah merindukan 'Ammar. Kerinduan itu telah membuncah sejak lama, menunggu sampai 'Ammar menyelesaikan tugas dan tanggungjawabnya.

Kini, tugas itu telah terlaksana dengan baik, sekarang ia memenuhi panggilan kerinduan yang datang dari taman surga. Ia letakkan tombaknya, lalu pergi memenuhi panggilan itu.

Saat tangan-tangan para sahabat menimbun pasir ke pusara 'Ammar, ruhnya telah menggapai masa depannya. Disana, di taman surga yang telah lama merindukan kehadiran 'Ammar.

Sosok Ayah

Bismillahirrahmanirrahim.
Telfon berdering saat aku sedang berada di kampus. Kulihat pada layar handphone bertuliskan Abah is calling. Aku mengangkat telfon dari beliau. Tak kuasa aku menahan air mata, berkaca pada pelupuk dan menetes membasahi pipi dan kerudungku. Aku merindukannya, namun ada hal lain yang membuatku menangis tersedu saat itu.

Memperhatikan taman-taman di kampus sembari mendengar suara beliau begitu menentramkan. Beberapa waktu yang lalu aku meminta izin kepada beliau jika liburan aku ingin menimba ilmu di Kediri di sebuah pondok Al-Qur'an dan kampung bahasa disana. Terdengar suara Ayah yang begitu berat untuk menjawabnya, "Iya ga papa. Tapi kalau di Kaliwungu saja gimana mbak?", tanya beliau. Ayah selalu memanggilku mbak, karena aku mempunyai seorang adik.
"di Kaliwungu ndak ada kampung bahasanya,Pah. Biar ndak mbosen, dikasih selingan antara belajar bahasa sama belajar Al-Qur'an.", jawabku. Ayah tak menanggapi lagi.

Kini tiba-tiba Ayah kembali membincangkan tentang hal itu, ternyata beliau mencarikan pondok Al-Qur'an + bahasa yang masih dekat dengan rumah. "Mbak, kalau pondok Al-Qur'annya di Sukorejo bagaimana? disana ada pembelajaran bahasa juga."
Kini aku mengerti, betapa lembut kata-kata Ayah. Beliau bukan tak mengijinkanku, tapi ingin aku tidak jauh-jauh lagi dari beliau di liburan ini. Sekarang aku menurut. Ayah betapa lembut kata-kata Ayah, bahkan Ayah tidak pernah bilang 'Tidak boleh' kepadaku.

Tiba-tiba aku mengangis dengan semakin terisak. "Kenapa mbak?" tanya Ayah. Suaraku tercekat, hanya isak tangis yang keluar. Aku ceritakan masalahku dua hari ini. Ayah mendengarkan dengan seksama hingga aku selesai.
"Ngga apa-apa mbak. Apa yang sudah Allah kasih ke kita sudah sangat banyak. Masalah ini tidak perlu dijadikan beban. Ini hanya masalah kecil, untuk pembelajaran saja ya. Namun jangan jadikan hal ini menjadi penghambat bagimu untuk selalu berbuat baik pada orang lain. Banyak-banyak beristighfar ya.."

Aku teringat pesan Ayah 3 tahun lalu, di meja makan kami. Kala itu sedang ramai berita tentang jebolnya sebuah tanggul di daerah Jakarta sehingga terjadi banjir besar disana. "Apakah kita pantas menyebutnya sebagai musibah atau bencana dari-Nya, padahal diri ini milik-Nya. Layaknya seorang pelukis, ia berhak melakukan apapun terhadap lukisannya. Mau membuangnya, atau memajangnya, terserah pada si pelukis itu. Diri ini milik-Nya, dan akan kembali kepada-Nya."

Ayah.. Aku ingin kelak mempunyai imam yang begitu pengertian seperti Ayah..

THALHAH BIN UBAIDILLAH & ZUBAIR BIN AWWAM

Bismillahirrahmanirrahim. 
Sewaktu Rasulullah mempersaudarakan sahabatnya di Mekah sebelum hijrah, beliau mempersaudarakan Thalhah bin Ubaidillah dengan Zubair bin Awwam.
Sudah sejak lama Nabi Muhammad bersabda tentang keduanya secara bersamaaan, seperti sabda beliau, "Thalhah dan Zubair adalah tetanggaku di surga."

Keduanya masih kerabat Rasulullah. Thalhah masih keturunan kakek buyut Rasulullah yang bernama Murrah bin Ka'ab, sedangkan Zubair masih keturunan kakek buyut Rasulullah yang bernama Qusai bin Kilab. Ibu Zubair (Shafiyah) juga bibi Rasulullah.

Thalhah dan Zubair mempuyai banyak kesamaan dalam menjalani roda kehidupan. Masa remaja, keteguhan dalam beragama, kedermawanan, dan keberanian mereka hampir sama. Keduanya termasuk orang-orang yang masuk Islam di awal. Dan termasuk 10 orang yang dikabarkan Rasulullah masuk surga. Termasuk enam orang yang diamanahi khalifah Umar untuk memilih khalifah pengganti. Bahkan, ketika kematian keduanya sama persis.

Saat setelah pemakaman Thalhah dan Zubair, Khalifah Ali berdiri melepas keduanya dengan kata-kata indah,
"Sesungguhnya aku benar-benar berharap masuk bersama Thalhah, Zubair, dan Utsman, dalam golongan yang difirmankan Allah,
'Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan'(Al Hijr:47)"

Salam sejahtera untukmu wahai Thalhah dan Zubair..
Beribu salam sejahtera untukmu wahai pembela Rasulullah..