Senin, 31 Desember 2012

Sedikit Demi Sedikit Lama-lama Menjadi Bukit

Pepatah ini sederhana saja, “Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.” Kita biasa memaknainya, bahwa bila kita mengumpulkan sesen demi sesen, pada saatnya kita akan mendapatkan sepundi. Namun sesungguhnya pepatah ini tak sekedar berbicara tentang hidup hemat, atau ketekunan menabung.
Pepatah ini menyiratkan tentang sesuatu yang lebih berharga dari sekedar sekantung keping uang, yaitu: bila kita mampu mengumpulkan kebaikan dalam setiap tindakan-tindakan kecil kita, maka kita akan dapati kebesaran dalam jiwa kita. 
Bagaimana tindakan-tindakan kecil itu mencerminkan kebesaran jiwa sang pemiliknya? Yaitu, bila disertai dengan secercah kasih sayang di dalamnya. Ucapan terimakasih, sesungging senyum, sapaan ramah, atau pelukan bersahabat, adalah tindakan yang mungkin sepele saja. Namun dalam liputan kasih sayang, ia jauh lebih tinggi daripada bukit tabungan anda.


Menyikapi Perayaan Tahun Baru


Tidak sedikit masyarakat yang begitu hebohnya mempersiapkan tahun baru, berbagai perayaan digelar untuk menyemarakkan pergantian tahun ini, dari kalangan bawah, menengah, hingga kalangan atas ramai menyambut tahun baru ini dengan berbagai hal yang telah menjadi tradisinya masing-masing. Tak sedikit pula umat muslim merayakan detik-detik pergantian tahun ini. 


Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir.

Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.
Banyak ulama yang mengharamkan untuk ikut merayakan tahun baru Masehi namun hal ini tidak direspon oleh masyarakat Umat Muslim, dengan alasan seluruh dunia ikut merayakan tahun baru Masehi dan mreka bersikeras tidak ada sangkut pautnya dengan kaidah agama.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk darinya”.

Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma berkata: “Barangsiapa yang tinggal di negeri kaum musyrikin, melakukan hari raya niruz (tahun baru masehi persia) dan mahrojan, serta menyerupai mereka hingga dia meninggal, maka dia akan dikumpulkan bersama mereka pada hari kiamat.”

Dari riwayat di atas tentu sudah sangat jelas, sebagai umat muslim kita tidak perlu ikut-ikutan merayakan tahun baru masehi, apalagi dengan hura-hura yang jelas hal tersebut bersifat mubadzir atau mudharatnya jauh lebih banyak dari  manfaatnya. Bahkan di Negara tertentu, tahun baru menjadi ajang untuk melepas keperawanan, naudzubillah min dzalik.
Memang tidak dapat kita pungkiri, di Indonesia sendiri juga lebih memakai kalender Masehi daripada kalender Hijriyah, meski demikian kita sebagai umat muslim seharusnya lebih meramaikan tahun baru Hijriyah dengan cara yang ma’ruf dan tidak berlebihan serta tidak perlu merayakan tahun baru masehi.
Hari Raya umat Muslim juga ada dua yaitu Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha, dimana dalam hari raya tersebut umat Muslim dipersilahkan untuk bersenang-senang dan makan makanan enak sepuasnya.
Setelah mengetahui naik-nilai dan moral Islam, semestinya kita juga wajib menerapkannya pada diri sendiri dan menyampaikannya pada orang lain dengan cara yang sebaik-baiknya. Dan semoga para pemimpin di negeri ini juga bisa menerapkannya. 

Minggu, 23 Desember 2012

MUSH’AB BIN UMAIR


Mush’ab bin Umair adalah satu di antara sahabat Nabi s.a.w Dia seorang remaja Quraisy yang paling menonjol, paling tampan dan paling bersemangat.
Para penulis sejarah biasa menyebutnya sebagai “Pemuda Mekah yang menjadi sanjungan semua orang.”
Dia lahir dan dibesarkan dalam limpahan kenikmatan. Bisa jadi, tak seorangpun di antara anak muda Mekah yang dimanjakan kedua orang tuanya seperti yang didapatkan Mush’ab bin Umair.
Mungkinkah kiranya anak muda yang serba kecukupan, biasa hidup mewah dan manja, selalu dielu-elukan, dan bintang di setiap rapat dan pertemuan, akan berubah menjadi tokoh dalam sebuah cerita keimanan dan perjuangan demi membela Islam. . .?
Sungguh satu kisah penuh pesona… Kisah perjalanan Mush’ab bin Umair atau kaum muslimin biasa menyebutnya “Mush’ab Al-Khair(yang baik)”. . .
Dia adalah satu diantara orang-orang yang ditempa oleh Islam dan dididik oleh Muhammad saw.
Seperti apakah dia. . .?
Sungguh, kisah hidupnya menjadi kebanggan seluruh umat manusia. Suatu hari, anak muda ini mendengar berita tentang Muhammad yang selama ini dikenal jujur… Berita yang juga mulai didengar oleh warga Mekah… Muhammad yang selama ini dikenal jujur itu (Al-Amin) menyatakan bahwa dirinya telah diutus Allah sebagai pembawa berita gembia dan pemberi peringatan. Mengajak umat manusia beribadah kepada Allah Yang Maha Esa. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Mush’ab. Dengan sedikit strategi, dia berhasil mengecoh ibu dan para penjaganya. Ia berhasil lolos dari kurungan, lalu ikut hijrah ke Habasyah.
Dia tinggal disana bersama saudara-saudaranya sesame muhajirin. Lalu pulang ke Mekah. Kemudian ia pergi lagi hijrah ke Habasyah untuk kedua kalinya bersama para sahabat atas titah Rasulullah saw.
Baik di Habasyah maupun di Mekah, keimanan Mush’ab semakin mantap. Dia menapaki pola hidup baru yang diajarkan oleh teladannya: Muhammad saw. Mush’ab sudah mantap kala seluruh kehidupannya akan diberikan hanya untuk Sang Pencipta Yang Maha Agung.
Pada suatu hari ia menghampiri kaum muslimin yang sedang duduk di sekeliling Rasulullah saw. Melihat penampilan Mush’ab, mereka menundukkan pandangan, bahkan ada yang menangis. Mereka melihat Mush’ab memakai jubbah using yang bertambal-tambal. Padahal, masih segar dalam ingatan mereka bagaimana penampilannya sebelum masuk Islam. Pakaiannya ibarat bunga di taman, menebar aroma wewangian.
Adapun Rasulullah, beliau menatapnya dengan pandangan penuh arti, disertai cinta kasih dan syukur dalam hati. Kedua bibirnya tersenyum bahagia dan bersabda,
“Dahulu, tiada yang menandingi Mush’ab dalam mendapatkan kesenangan dari orang tuanya. Lalu semua itu ia tinggalkan demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Jumat, 14 Desember 2012

Mengenal Manusia (Ma'rifatul Insan)


1.1 Definisi (ta’rif) Insan

Manusia dapat didefinisikan sebagai makhluk Allah SWT yang terdiri dari ruh dan jasad yang dimuliakan Allah SWT dengan posisi sebagai khalifah di muka bumi dan bertugas untuk mengabdi kepada-Nya.


1.2 Hakekat Insan (Manusia) 

Manusia itu terdiri dari ruh dan jasad. Dan ruh yang hidup dalam daging dan tulang-belulang, ia memiliki nilai lebih besar daripada seluruh alam kebendaan. Meskipun ruh dan jiwa berkaitan dengan jasad yang berupa benda, namun adanya manusia adalah berkat adanya ruh. Dan ruh adalah asal dan sumber kepribadian manusia, seolah-olah seluruh alam wujud ini diciptakan Allah SWT untuk membentuk manusia agar dapat mengenal hakekat dirinya. 


Ruh manusia itu berasal dari alam arwah (alam yang hakikatnya tidak dapat diketahui oleh manusia di mana tempatnya), sedangkan jasmani berasal dari tanah. Setelah keduanya digabung menjadi satu, manusia dimasukkan ke alam yang ke dua yaitu alam rahim (alam kandungan). Setelah terlahir dari perut ibunya, manusia memasuki alam ke tiga yaitu alam dunia (alam fana). Di alam dunia ini manusia akan tinggal untuk sementara sesuai dengan jatah umur yang diberikan oleh Allah SWT.

أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا فِي أَنفُسِهِم مَّاخَلَقَ اللهُ السَّمَاواتِ وَاْلأَرْضَ وَمَابَيْنَهُمَآ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُّسَمَّى وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ النَّاسِ بِلِقَآئِ رَبِّهِمْ لَكَافِرُونَ.

Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?, Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan.Dan sesungguhnya kebanyakan diantara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Rabbnya. (QS. Ar-Rum (30) : 8).

Kemudian setelah manusia mati, baik secara husnul khatimah maupun suul khatimah, ia akan memasuki alam ke empat, yaitu alam kubur (alam barzakh). Di alam ke empat ini manusia akan tinggal sampai tiba hari kiamat atau hari kebangkitan (yaumul ba’ts). Setelah dibangkitkan kembali, manusia akan memasuki alam yang ke lima yaitu padang Mahsyar. Dan di padang Mahsyar inilah semua manusia akan mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya selama hidup di dunia.



Mengenal Rasul (Ma'rifatur Rasul)


1.1 Kebutuhan Manusia Terhadap Rasul (Hajatul Insaan ilarrasul)
Manusia sangat membutuhkan adanya seorang rasul yang diutus; karena secara fitrah, manusia selalu ingin tahu keberadaan sang pencipta, selalu menginginkan untuk dapat mengabdi secara benar kepada sang pencipta (Allah SWT), dan selalu menginginkan kehidupan yang teratur.

Untuk bisa mengetahui secara benar tentang keberadaan Allah, bagaimana cara melakukan pengabdian kepada-Nya, dan bagaimana bisa memahami aturan main hidup yang dibuat oleh Allah SWT sebagai pencipta yang akan menjadikan kehidupan manusia menjadi teratur, semuanya itu hanya bisa diperoleh melalui penjelasan atau petunjuk dari seorang rasul. Maka keberadaan seorang rasul menjadi sangat dibutuhkan oleh manusia.

Allah SWT berfirman,
قُل لِّمَنِ اْلأَرْضُ وَمَن فِيهَآ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ . سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلاَ تَذَكَّرُونَ . قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ . سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلاَ تَتَّقُونَ . قُلْ مَن بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَىْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلاَيُجَارُ عَلَيْهِ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ . سَيقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ.
Katakanlah: "Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?" Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah."Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak ingat?" Katakanlah: "Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya 'Arsy yang besar?" Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah."Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak bertakwa?" Katakanlah: "Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab) -Nya, jika kamu mengetahui?" Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?"(QS. Al-Mukminun (23) : 84-89)

1.1.1 Makna Risalah dan Rasul
•Risalah: Sesuatu yang diwahyukan A11ah SWT berupa prinsip hidup, moral, ibadah, aqidah untuk mengatur kehidupan manusia agar terwujud kebahagiaan di dunia dan akhirat.

•Rasul: Seorang laki-laki yang diberi wahyu oleh Allah SWT yang berkewajiban untuk melaksanakannya dan diperintahkan untuk menyampaikannya kepada manusia.
وَمَآأَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلاَّ رِجَالاً نُّوحِي إِلَيْهِمْ فَسْئَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَتَعْلَمُونَ.
Allah SWT berfirman,
Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui. (QS. Al-Anbiyaa` (21) : 7)

1.1.2 Tanda-tanda kerasulan Muhammad SAW
Di antara tanda-tanda kerasulan Muhammad SAW adalah :
1.Memiliki sifat yang asasi (shiddiq, komitmen atau amanah terhadap perintah, tabligh dan fathanah atau cerdas).
2.Memiliki mukjizat (kejadian luar biasa yang diberikan Allah SWT sebagai tanda kenabian atau kerasulannya yang tidak bisa dipelajari dan ditandingi, serta tidak berulang).
3.Berita kedatangannya sudah diberitahukan. (QS. Ash-Shaf (61) : 6)


1.1.3 Kedudukan Rasulullah SAW 
Untuk mengetahui kedudukan Rasulullah SAW, dapat dilihat dari dua sisi, yaitu :

•Sebagai hamba Allah 
Rasulullah SAW, dilihat dari kehambaannya atau kemanusiawiannya tidak ada bedanya dengan manusia yang lainnya. Di dalam sejarah kita dapat mengenal nasabnya, sifat-sifat fisiknya, hari dan tanggal kelahirannya. Beliau juga makan, minum dan berkeluarga, yang mana semuanya itu dimiliki oleh semua hamba Allah SWT termasuk Rasulullah SAW.

Allah SWT berfirman,
وَقَالُوا مَالِ هَذَا الرِّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي اْلأَسْوَاقِ لَوْلآ أُنزِلَ إِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُونَ مَعَهُ نَذِيرًا.
Dan mereka berkata:"Mengapa Rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia. (QS.Al-Furqan (25) : 7)